Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Tepuk tangan di ruang wisuda STIE Malangkuçeçwara pecah, lalu hening sejenak. Nama Choirunisa disebut paling akhir, namun justru paling membekas. Pada Wisuda Sarjana dan Pascasarjana ke-78 hari ini, Sabtu (11/10/2025), mahasiswi angkatan 2021 itu dinobatkan sebagai lulusan terbaik pertama Jurusan Akuntansi dengan Indeks Prestasi Kumulatif 3,98.
Di balik toga rapi dan senyum yang tenang, tersimpan perjalanan panjang yang penuh keterbatasan sekaligus keteguhan.
Choirunisa tumbuh di Dusun Selobrojo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Sebuah desa yang jauh dari hiruk pikuk kampus. Ayahnya bekerja sebagai sopir truk pasir, sementara ibunya buruh tani. Pendidikan orang tuanya hanya sampai sekolah dasar dan tidak tamat. Di keluarganya, kuliah bukanlah hal yang lazim.
“Ayah saya sopir truk pasir, ibu buruh tani. Kakak juga sopir truk. Orang tua hanya sekolah sampai SD dan tidak lulus,” ujarnya.
Dari latar belakang itu, tumbuh tekad untuk menjadi orang pertama di keluarganya yang menempuh pendidikan tinggi. Namun jalan menuju kampus tidak semulus yang dibayangkan.
Ia sempat dinyatakan lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Kesempatan itu akhirnya lepas karena keterbatasan ekonomi yang membuatnya terlambat melakukan daftar ulang. Situasi itu hampir menghentikan langkahnya.
Tidak ingin menyerah, Choirunisa mencari alternatif. Ia berkonsultasi dengan guru bimbingan konseling yang kemudian menyarankan STIE Malangkuçeçwara. Ia mendaftar, diterima, dan berkesempatan mengikuti seleksi beasiswa unggulan. Hasilnya menjadi titik balik hidupnya.
“Saya dari jurusan IPA, tapi sejak SMA sudah tertarik dengan akuntansi. Waktu tahu ada beasiswa unggulan, saya langsung mendaftar. Alhamdulillah diterima,” kenangnya.
Sejak semester dua, Choirunisa mulai aktif mencari pengalaman di luar perkuliahan. Ia membuka kelas bimbingan belajar daring gratis bagi siswa sekolah. Responsnya di luar dugaan. Kelas itu berkembang dan terus berjalan hingga kini. Selain itu, ia juga mengajar di sejumlah lembaga bimbingan belajar di Malang untuk siswa SD hingga SMA.
Memasuki semester enam hingga delapan, ia terlibat langsung membantu dosen dalam proyek audit buku keuangan. Dari pengalaman tersebut, jejaring profesionalnya terbuka. Ia mulai dikenalkan ke kantor akuntan publik dan jasa akuntan hingga dipercaya terlibat dalam proyek audit riil.
Bagi Choirunisa, belajar bukan hanya soal memahami teori. Ia kerap membantu teman-temannya memahami materi kuliah. Menurutnya, mengajar orang lain justru memperkuat pemahaman diri.
“Cara terbaik untuk mengingat pelajaran adalah dengan mengajarkannya ke orang lain,” katanya.
Motivasi terbesarnya sederhana, tetapi kuat. Ia ingin mengubah cara pandang keluarganya terhadap pendidikan.
“Di desa saya, anak yang kuliah bisa dihitung jari. Saya ingin keluarga saya melihat bahwa kuliah itu mungkin dan tidak menakutkan,” ujarnya.
Ia pun berpesan kepada anak-anak muda dari latar belakang serupa agar tidak takut bermimpi. Menurutnya, keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk berhenti berusaha.
“Kalau keluarga merasa tidak mampu, cari beasiswa. Banyak jalan terbuka asal mau berusaha. Yang penting ingat tujuan kuliah, yaitu berkembang, berkontribusi, dan membawa perubahan,” tutupnya.
Dari Selobrojo ke panggung wisuda, Choirunisa membuktikan bahwa ketekunan dan keberanian mampu mengubah arah hidup. Anak sopir truk dan buruh tani pun bisa berdiri di puncak prestasi akademik, selama tidak berhenti melangkah. (A.Y)
