Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Prestasi mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara kembali berbicara di level nasional. Tiga mahasiswa kampus yang dulu kerap disebut dengan ABM ini sukses menorehkan capaian membanggakan dengan meraih juara III Kompetisi Akuntansi Nasional 2025. Sebuah ajang yang mempertemukan talenta-talenta terbaik dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Kompetisi tersebut diselenggarakan oleh Universitas Hayam Wuruk Perbanas Surabaya dan berlangsung dalam format daring melalui Zoom Meeting pada 12, 14, dan 21 Juni 2025. Sementara prosesi penganugerahan juara digelar secara luring di Surabaya pada 18 Juli 2025 yang lalu.
Perjalanan menuju podium tidak instan, karena para peserta harus melewati empat tahapan seleksi yang dirancang ketat dan berlapis. Babak awal difokuskan pada penyisihan soal-soal akuntansi dasar untuk menguji fondasi keilmuan peserta. Tahap berikutnya menantang kemampuan individu sekaligus kerja tim, memastikan pemahaman teori berjalan seiring dengan kolaborasi.
Ketegangan meningkat pada tahap ketiga melalui format cerdas cermat akuntansi yang menuntut kecepatan berpikir dan akurasi jawaban. Sementara babak final menjadi arena penentuan, di mana tim terbaik dituntut mempresentasikan gagasan secara sistematis dan argumentatif di hadapan dewan juri.
Pada fase pamungkas tersebut, tim ABM mengangkat tema “Peran Pajak dalam Mendorong Pembangunan Berkelanjutan dan Lingkungan” yang dinilai relevan dengan isu pembangunan kontemporer sekaligus menegaskan posisi akuntansi sebagai instrumen strategis dalam kebijakan fiskal berkelanjutan.
Tim ABM diperkuat oleh Achbar Adi Saputra, Alif Aminullah, dan Maora Rizqi Salsabillah. Mereka harus berhadapan dengan 20 tim dari berbagai daerah, termasuk perguruan tinggi dengan reputasi kuat di bidang akuntansi seperti PKN STAN, Universitas Diponegoro, dan Universitas Gadjah Mada. Persaingan ketat itu justru menjadi ruang pembuktian.
“Secara teknis mirip dengan olimpiade akuntansi pada umumnya, tetapi tantangannya selalu baru karena aturan dan karakter peserta berubah setiap tahun. Kami harus cepat beradaptasi,” ujar Adi, mewakili timnya.
Meski seluruh tahapan lomba dilaksanakan secara daring, intensitas kompetisi tetap terasa. Fokus dan konsentrasi menjadi ujian tersendiri ketika peserta harus beradu kemampuan melalui layar komputer.
Namun suasana berbeda dirasakan saat seremoni penghargaan digelar secara langsung. Di momen itulah, nama ABM resmi diumumkan sebagai peraih juara III. Sebuah penegasan bahwa kerja panjang mereka berbuah hasil.
Capaian ini memperpanjang daftar prestasi mahasiswa STIE Malangkucecwara di tingkat nasional. Lebih dari sekadar gelar juara, keberhasilan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa mahasiswa kampus swasta mampu bersaing secara setara dengan perguruan tinggi besar.
“Kami bangga bisa membawa nama kampus. Prestasi ini membuktikan bahwa dengan kerja sama dan konsistensi, kami bisa tampil dan bersaing di level nasional,” tambah Adi.
Bagi para mahasiswa, kompetisi ini bukan hanya soal trofi. Ajang nasional semacam ini menjadi ruang belajar untuk mengasah nalar kritis, memperluas perspektif, serta melatih mental bertanding. Ke depan, tim ABM berharap capaian mereka bisa menjadi pemantik semangat bagi mahasiswa lain untuk berani melangkah, mencoba, dan menorehkan prestasi serupa atau bahkan melampauinya. (A.Y)
