Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Prestasi internasional kembali diukir oleh civitas akademika STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang, karena di tengah kemeriahan acara penyambutan mahasiswi yang baru saja menyelesaikan masa magang di Negeri Sakura, kampus ini sekaligus resmi melepas dua mahasiswa terbaiknya untuk bertolak ke Jepang guna menjalani program internship di berbagai perusahaan mitra.

Dua mahasiswa yang beruntung dan telah siap diberangkatkan tersebut adalah Roby Purba Arditia dan M. Ismail yang juga menghadiri langsung prosesi pelepasan resmi yang digelar di area ABM Hub hari ini.

Setelah prosesi pelepasan selesai, Roby Purba Arditia membagikan pengalamannya dimana ia mengaku awalnya sempat memendam keraguan untuk bisa menginjakkan kaki di Jepang karena membayangkan biaya akomodasi dan administrasi yang sangat besar.

“Tetapi ternyata setelah saya sudah semester 3 atau 4 itu saya mencari tahu lebih dalam dan ternyata biayanya itu tidak terlalu besar seperti yang saya duga awalnya. Apalagi kalau kita intern di Jepang itu kan kita digaji,” kata Roby Purba Arditia.

Roby merasa sangat siap melangkah karena pihak kampus telah memberikan dukungan penuh dan pendampingan yang matang sejak awal persiapan hingga menjelang keberangkatan.

“Jadi kampus ABM Malang itu sudah lengkap banget menyediakan fasilitasnya, mulai dari menyediakan kursus, latihan wawancaranya hingga penguatan penguasaan bahasa dan lain sebagainya. Saya sudah persiapkan kemampuan bahasa Jepang ini sudah berbulan-bulan dan juga menyiapkan mental termasuk sharing dengan kakak tingkat yang sudah pernah internship di Jepang dan lain sebagainya,” ujar Roby.

Di lokasi yang sama, M. Ismail juga mengutarakan hal senada. Pemuda ini mengaku bahwa sebelumnya sama sekali tidak pernah terlintas di pikirannya untuk bisa pergi ke luar negeri semasa kuliah.

“Tetapi pas baru masuk kuliah di STIE Malangkuçeçwara itu kan ada pengenalan tentang program, dimana salah satu program yang ada di ABM ini adalah student exchange dan magang (internship) sehingga saya langsung tertarik untuk ikut magang karena saya pikir dengan adanya magang ini itu membuka pintu karir saya ke depannya,” ucap M. Ismail.

Meski ketertarikan itu muncul, Ismail sempat merasa skeptis dengan kemampuannya sendiri. Namun, ia tidak menyerah dan memilih fokus memprioritaskan raihan Indeks Prestasi yang tinggi serta memperdalam kemampuan bahasa asing hingga akhirnya berhasil melewati seluruh rangkaian seleksi administrasi dan wawancara.

“Awalnya saya tidak mengerti itu apa itu hiragana, apa itu katakana. Tapi saya belajar terus dimana satu minggu sebelum tes itu saya maksimalin dan alhamdulillah saya lolos dari sekitar 30 kandidat. Setelah lolos itu saya langsung ikut kelas bahasa Jepang sudah hampir satu tahun belakangan ini,” tutur M. Ismail bangga. (A.Y)