Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Dua orang dosen Universitas Widya Gama (UWG) Malang secara resmi dikukuhkan menjadi Guru Besar Universitas Widya Gama pagi hari tari, Rabu (22/07/2026).
Dua dosen UWG tersebut menjadi Guru Besar dari bidang berbeda. Prof. Dr. Ir. Ririen Prihandarini, M.S., dikukuhkan sebagai Guru Besar Mikrobiologi Fakultas Pertanian Universitas Widya Gama Malang. Sementara Prof. Dr. Ana Sopanah S., S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., dikukuhkan menjadi Guru Besar bidang Akuntansi pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Widya Gama Malang.
Prof. Ririen dalam orasi ilmiahnya yang berjudul “Revolusi Bioindustri: Inovasi Kunci Mewujudkan Pertanian Berkelanjutan dan Pemulihan Lingkungan”, menjelaskan pentingnya pemanfaatan mikroorganisme sebagai alternatif pupuk dan pestisida berbahan kimia mengingat kekayaan alam Indonesia telah menyediakan mikroorganisme yang memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Sayangnya penggunaan mikroorganisme hingga saat ini masih kalah jika dibandingkan dengan penggunaan bahan kimia sintetis.
“Sebetulnya Allah sudah menurunkan makhluk-Nya untuk bekerja di alam ini. Tetapi selama ini kurang diperhatikan karena kita lebih percaya menggunakan bahan-bahan kimia. Padahal itulah yang menyebabkan kerusakan di alam. Saya ingin semuanya kembali dari alam untuk alam,” ujar Prof. Ririen.
Diakui olehnya, beralih menjadi petani organik tidaklah semudah gambarannya karena banyak tantangan yang harus dihadapi dalam perjalanannya.
“Menjadi petani organik itu tidak gampang. Butuh tenaga karena harus diupayakan sendiri oleh petani. Selain itu, industri yang memproduksi mikroorganisme dalam skala besar juga masih sangat terbatas sehingga kebutuhan petani belum sepenuhnya dapat dipenuhi,” ungkapnya.
Kekayaan alam yang luar biasa di Indonesia dinilai membuat Indonesia memiliki modal besar untuk mengembangkan bioindustri.
“Indonesia sangat kaya mikroorganisme, bahkan termasuk yang terkaya di dunia karena berada di pertemuan dua rangkaian gunung berapi dan dua samudera besar. Kondisi itu sangat strategis bagi kehidupan mikroorganisme,” pungkas Prof. Ririen.
Sementara itu, Prof. Dr. Ana Sopanah, S.E., M.Si., Ak., CA., CMA., memperkenalkan ide dan penelitiannya terkait akuntansi berbasis kearifan lokal dan menyampaikan orasi ilmiahnya yang berjudul “Akuntansi Kearifan Lokal: Dari Nilai Budaya Menuju Akuntabilitas dan Keberlanjutan Organisasi”.
Menurut Prof. Ana, dirinya ingin membangun akuntansi bukan sekadar angka, tetapi ada nilai budaya dan sosial yang kemudian mempengaruhi ketika masyarakat berinteraksi maupun mengelola anggaran dalam kehidupan sehari-hari.
“Karena pada hakikatnya, semua kehidupan kita ada akuntansinya,” ujarnya.
Ketertarikan Ana terhadap akuntansi berbasis budaya dibangun melalui berbagai penelitian pada komunitas lokal, mulai masyarakat Suku Tengger, Bali, Madura hingga komunitas Bantengan di Jawa Timur. Penelitian mengenai akuntansi Bantengan bahkan menjadi karya utama yang mengantarkannya meraih gelar profesor.
“Di balik pertunjukan seni Bantengan ternyata terdapat praktik pengelolaan keuangan yang sederhana namun mencerminkan prinsip-prinsip akuntansi sektor publik. Misalnya komunitas Bantengan mendapat tanggapan Rp5 juta, dimana dana itu kemudian dibagi untuk membeli sesajen, disisihkan menjadi kas kelompok, hingga diberikan kepada para pemain. Itu semua adalah praktik akuntansi,” ujarnya.
Prof. Ana menambahkan, aspek akuntansi dalam berbagai kegiatan kearifan lokal tersebut selama ini belum banyak dikaji dalam dunia akademik karena penelitian akuntansi masih didominasi pendekatan keuangan perusahaan.
Selain pengukuhan dua dosennya menjadi Guru Besar, Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pembina YPPI Widya Gama Malang, Prof. Dr. Muryati, S.E., M.M., menyerahkan Surat Pengangkatan kepada enam Profesor Emeritus UWG Malang.
Enam Profesor Emeritus yang menerima surat tersebut antara lain Prof. Dr. Ir.Agoes Soehardjono, M.D., M.S.,(Program Studi S1 Teknik Sipil), Prof. Dr. Ir. Budi Sugiarto Waloeya, M.S.P., (Program Studi S1 Teknik Sipil), Prof. Dr. H. Armanu, S.E., M.Sc., (Program Studi S3 Sains Manajemen), Prof. Dr. Maryunani, S.E., M.S.(Program Studi S3 Sains Manajemen), Prof. Dr. Ir. Sonny Leksono, S.E., M.S., (Program Studi S3 Sains Manajemen), dan Prof. Dr. Ir. H. Djoko Kustono, M.Pd., (Program Studi S1 Teknik Mesin).
Pengangkatan tersebut menjadi bentuk penghormatan atas dedikasi para akademisi senior sekaligus penguatan Tri Dharma perguruan tinggi.
Sementara itu terkait pengukuhan dua Guru Besar dan Profesor Emeritus tersebut, Rektor UWG Malang, Dr. Anwar, SH., M.Hum., menjelaskan jika selama periode 2024-2026, UWG telah berhasil meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui berbagai upaya seperti penambahan empat dosen berkualifikasi doktor, 21 kenaikan jabatan akademik dosen, enam dosen tersertifikasi sebagai Dosen Profesional, serta pengangkatan enam Guru Besar (Profesor) Emeritus.
“Hal-hal ini merupakan wujud penguatan kepakaran, pembinaan akademik, dan keberlanjutan pengembangan institusi yang harapannya akan dapat bermanfaat bagi kemaslahatan yang lebih besar lagi,” pungkas Dr. Anwar. (A.Y)
