Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Persoalan klasik pencemaran lingkungan akibat limbah cair industri penyamakan kulit skala kecil dan menengah kini berpotensi menemukan jawaban yang lebih ramah kantong dan lingkungan. Tim Pengabdian Masyarakat Program Doktor Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan (PDKIK) Universitas Brawijaya (UB) telah mengembangkan sebuah prototipe pengolahan limbah berbasis fitoremediasi, memanfaatkan tanaman lokal yang mudah didapat untuk menyerap zat berbahaya.
Inisiatif ini hadir sebagai solusi konkret mengingat banyak pelaku industri penyamakan kulit, terutama di sektor kecil dan menengah, yang menyadari bahaya limbah cair mereka namun terbentur oleh mahalnya biaya serta rumitnya teknologi pengolahan limbah konvensional. Akibatnya, sebagian besar limbah belum tertangani secara optimal, memicu risiko pencemaran air, tanah, dan bahaya kesehatan jangka panjang bagi masyarakat sekitar.
Prototipe instalasi yang dirancang oleh Tim PDKIK UB terbilang sederhana, tetapi efektif. Prototipe ini memanfaatkan kemampuan alami tanaman lokal untuk menyerap dan menurunkan kadar polutan di air limbah.
“Fitoremediasi merupakan pendekatan pengolahan lingkungan yang bertumpu pada daya serap tanaman terhadap polutan tertentu. Fitoremediasi pada dasarnya adalah sistem pengolahan yang sederhana, tetapi efektif, karena memanfaatkan kemampuan alami tanaman dalam menyerap dan mengakumulasi zat pencemar dari air,” jelas Ketua Tim PDKIK UB, Wresti Listu Anggayasti.
Wresti Anggayasti menekankan, masih banyak masyarakat yang belum tahu bahwa tanaman sehari-hari seperti kangkung, bayam, dan eceng gondok punya potensi besar dalam menyerap logam berat. Senyawa beracun seperti kromium dan timbal, yang umum digunakan dalam proses penyamakan kulit, dapat diserap oleh jaringan tanaman melalui akar. Jika konsentrasi logam berat di lingkungan tinggi, tanaman-tanaman ini mampu menyerapnya dalam jumlah signifikan.
Penemuan ini juga sekaligus menjadi peringatan. “Inilah mengapa sayuran yang ditanam di air atau tanah tercemar berpotensi membahayakan kesehatan. Orang bisa keracunan tanpa menyadari sumbernya berasal dari lingkungan tanam yang terkontaminasi,” ungkapnya.
Di banyak lokasi industri penyamakan kulit, penggunaan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) memang sudah ada. Namun, kinerjanya sering kali tidak maksimal karena kendala desain, kapasitas, atau perawatan yang kurang memadai.
Prototipe fitoremediasi yang dikembangkan Tim PDKIK ini dirancang untuk menjadi solusi pelengkap. Instalasi ini memanfaatkan tanaman lokal yang murah dan mudah diperoleh, seperti kangkung, bayam, dan eceng gondok.
Tanaman-tanaman tersebut ditempatkan dalam bak atau kolam khusus yang dialiri air limbah sebelum dibuang ke lingkungan. Dengan pengaturan teknis yang tepat, polutan, terutama logam berat, diharapkan dapat turun ke tingkat yang lebih aman.
Dari perspektif kebijakan, inovasi ini dapat meringankan beban biaya investasi pengolahan limbah bagi pelaku usaha kecil. “Di ranah kebijakan, inovasi prototipe sederhana seperti ini dapat membantu perusahaan kerajinan dan industri kecil memenuhi kewajiban pengelolaan limbah tanpa harus mengeluarkan biaya yang berlebihan,” ujar Wresti Listu Anggayasti.
Meskipun menjanjikan, Wresti mengakui bahwa rancangan ini masih memerlukan pengembangan lebih lanjut, terutama untuk merumuskan Standar Operasional Prosedur (SOP) yang jelas dan mudah diikuti oleh industri. Efektivitas sistem fitoremediasi sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor teknis.
“Efektivitas sistem akan berbeda-beda, yang tergantung pada komposisi dan kerapatan tanaman, termasuk seberapa baik kombinasi tersebut mampu menyerap polutan, terutama logam berat,” jelas Ketua Tim PDKIK UB tersebut.
Saat ini, Tim PDKIK tengah melengkapi data penelitian untuk menguji kinerja terbaik dari berbagai konfigurasi tanaman dalam menurunkan kadar pencemar. Tujuannya ke depan tidak hanya prototipe teknis, tetapi juga menyusun model kebijakan yang dapat diadopsi secara luas.
“Kami optimistis, dengan data penelitian yang memadai, kami dapat menyusun satu model kebijakan pengelolaan limbah yang lebih hijau dan berkelanjutan. Model kebijakan yang eco-friendly seperti ini semestinya didorong bersama oleh kalangan akademisi dan para pemangku kepentingan,” pungkas Wresti.
Inisiatif dari Universitas Brawijaya ini menunjukkan bagaimana kolaborasi akademisi dan dunia usaha dapat menghadirkan solusi lingkungan yang konkret dan sekaligus menawarkan pendekatan kebijakan yang inklusif bagi Industri Kecil dan Menengah (IKM), yang selama ini sering tertinggal dalam penerapan standar pengelolaan limbah. (Red)
