Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Upaya menjembatani ruang kuliah dengan dunia kerja kembali ditunjukkan STIE Malangkuçeçwara melalui talkshow bertajuk ‘Alumni ABM Tembus BUMN’ yang digelar secara hybrid pagi tadi, Rabu (20/08/2025). Forum ini menjadi ruang belajar langsung dari pengalaman para alumni yang telah lebih dulu menapaki jalur profesional.

Dua alumni lintas generasi dihadirkan sebagai narasumber yakni Ferry Andrianto, lulusan tahun 1992 yang kini menjabat komisaris di salah satu BUMN, serta Jaddid Hayataka Nawa, lulusan tahun 2018 yang saat ini berkarier di PT PELNI. Keduanya berbagi kisah tentang proses, kegagalan, dan strategi menembus perusahaan pelat merah.

Talkshow ini tidak diposisikan sebagai ajang nostalgia semata. Mahasiswa diajak memahami realitas seleksi BUMN secara utuh, mulai dari kelengkapan administrasi, tahapan tes, hingga kesiapan mental yang kerap menjadi penentu.

Sementara itu ditemui di sela kegiatan, Wakil Ketua Bidang Kemahasiswaan STIE Malangkuçeçwara, Kadarusman, menjelaskan bahwa kegiatan ini diikuti mahasiswa tingkat akhir serta mereka yang berada di semester lima hingga tujuh. Sekitar 20 dosen juga turut hadir agar dapat menangkap kebutuhan riil dunia kerja.

“Pesertanya sekitar 56 mahasiswa dan 20 dosen. Harapannya, mahasiswa lebih siap menghadapi dunia kerja, sementara dosen mendapat gambaran nyata agar pembelajaran makin relevan,” jelasnya.

Menurut Kadarusman, pengalaman alumni STIE Malangkuçeçwara yang telah berkarier di BUMN menjadi cermin penting bagi mahasiswa. Dari sana, kesadaran tentang pentingnya persiapan sejak dini, baik akademik maupun non-akademik, dapat tumbuh secara konkret.

Salah satu kisah yang menyita perhatian datang dari Jaddid Hayataka Nawa. Ia mengaku perjalanannya menuju PT Pelni tidak instan. Sebelum diterima di BUMN, ia sempat bekerja di cafe dan gelato shop sebagai staf keuangan. Dari fase itu, ia belajar tentang konsistensi dan ketekunan.

Informasi rekrutmen PT PELNI ia peroleh melalui kanal Telegram. Proses seleksi yang dijalani memakan waktu sekitar enam bulan hingga akhirnya dinyatakan lolos.

“Yang paling mendasar adalah doa orang tua dan dosen, lalu kemauan untuk terus belajar. Setiap proses rekrutmen selalu memberi pelajaran, terutama soal mental,” ujarnya.

Ia juga menilai bekal perkuliahan di STIE Malangkuçeçwara sangat relevan dengan pekerjaannya saat ini, terutama pada aspek akuntansi dan penjurnalan. Aktivitas di Unit Kegiatan Mahasiswa, seperti jurnalistik, turut membentuk kemampuan komunikasi dan kerja tim.

Dalam kesaksiannya, Jaddid menyoroti peran Career Development Center (CDC) kampus STIE Malangkuçeçwara. Dari pusat karier inilah ia memperoleh banyak informasi lowongan kerja, termasuk dua pekerjaan pertamanya sebelum masuk BUMN.

“CDC itu sangat membantu karena informasinya akurat dan rutin diperbarui. Mahasiswa dan alumni sebaiknya aktif berkomunikasi, karena peluang sering datang dari sana,” katanya.

Baik Ferry Andrianto maupun Jaddid sepakat bahwa menembus BUMN menuntut kesiapan menyeluruh. Kompetensi akademik, ketahanan mental, dan semangat belajar berkelanjutan menjadi kombinasi yang tidak bisa ditawar.

Bagi STIE Malangkuçeçwara, talkshow ini merupakan bagian dari komitmen jangka panjang untuk mendekatkan kampus dengan kebutuhan industri. Tujuannya jelas, mahasiswa tidak hanya lulus dengan gelar akademik, tetapi juga memiliki kesiapan dan daya saing ketika memasuki dunia kerja. (A.Y)