Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Pertemuan antara dunia kampus dan organisasi profesi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (UNISMA) tidak sekadar menjadi agenda rutin.

Forum Free Program Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPL) dan gathering 2026 justru membuka permasalahan yang selama ini jarang dibicarakan secara terbuka, mulai dari rumitnya jalur menjadi auditor hingga ironi peluang kerja yang luas namun kurang diminati.

Kegiatan yang mempertemukan FEB Unisma dengan Ikatan Akuntan Indonesia Wilayah Jawa Timur Komisariat Malang Raya serta Ikatan Akuntan Publik Indonesia ini memperlihatkan adanya jarak antara sistem pendidikan dengan kebutuhan riil di lapangan. Di satu sisi, kampus terus meluluskan sarjana akuntansi. Di sisi lain, akses menuju profesi inti seperti auditor publik masih terbilang tidak mudah.

Ketua IAI Komisariat Malang Raya, Prof. Dr. Puji Handayati, S.E., M.M.Ak., CA., CMA., CSRS., CSRA., menyebut bahwa persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari pola kerja masing-masing program studi yang masih berjalan sendiri. Padahal, di Malang Raya terdapat sedikitnya 15 kampus dengan jurusan akuntansi.

“Tujuannya adalah meningkatkan silaturahmi dan sinergisitas atas 15 kampus yang memiliki program studi akuntansi se-Malang Raya. Kami tahu bahwa sebuah keberhasilan prodi itu tidak bisa dijalankan sendiri,” ujarnya.

Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Komisariat Daerah Malang Raya, Prof. Dr. Puji Handayati saat menyampaikan materinya (Foto : Agus Yuwono)
Ketua Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) Komisariat Daerah Malang Raya, Prof. Dr. Puji Handayati saat menyampaikan materinya (Foto : Agus Yuwono)

Namun, persoalan yang lebih mendasar justru terletak pada jalur profesi itu sendiri, dimana menurut Prof. Puji untuk menjadi auditor publik membutuhkan proses panjang yang tidak sederhana.

“Sebenarnya sangat luas ya bidang yang dapat ditangani lulusan akuntansi ini. Memang persyaratan untuk menjadi auditor itu yang memang agak sulit. Contoh misalkan sertifikasi CPA itu nggak mudah. Itu perjuangan yang luar biasa,” ungkapnya.

Ia menambahkan, setelah lulus sertifikasi CPA, seorang akuntan tidak serta-merta bisa mendirikan Kantor Akuntan Publik. Ada kewajiban menjalani magang atau kemitraan selama dua tahun sebelum dapat menjadi mitra. Kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor terbatasnya jumlah KAP.

Data yang muncul dalam forum tersebut menunjukkan bahwa di Jawa Timur terdapat sekitar 60 KAP dimana 17 KAP berada di kota Malang. Jumlah itu bahkan harus melayani kebutuhan audit hingga ke daerah sekitar seperti Pasuruan, Blitar, Kediri hingga Nganjuk.

Menurut Prof. Puji, kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah khususnya Kementerian Keuangan melalui Pusat Pembinaan Profesi Keuangan yang membina organisasi profesi akuntan.

Di tengah keterbatasan tersebut, peluang profesi akuntansi justru semakin terbuka seiring hadirnya berbagai program pemerintah.

“Ketika pemerintah menggulirkan program Makan Bergizi Gratis, tidak hanya kebutuhan operasional saja, tetapi bagaimana satuan pelayanan itu punya akuntan yang bisa mengelola keuangan dan melaporkan secara akuntabel,” katanya.

Ia menegaskan bahwa kebutuhan serupa juga muncul dalam program Koperasi Desa Merah Putih.

“Semua unit bisnis apa pun, itu jantungnya ada di pengelolaan keuangannya. Oleh sebab itu, ini sebenarnya peluang karier bagi mahasiswa akuntansi untuk bisa berkontribusi dalam pembangunan nasional,” tambahnya.

Mengakhiri wawancara, Prof. Puji mengakui kegiatan Free PPL dan Gathering tersebut merupakan implementasi dari program IAI Komda Malang Raya yang dipimpinnya.

Ditemui di lokasi yang sama, Dekan FEB Unisma, Afifudin, S.E., M.SA., Ak., CA., CPA., melihat masih adanya gap antara kualitas lulusan dan kebutuhan dunia kerja mulai dilakukan upaya pembenahan oleh dunia akademisi di Malang Raya, khususnya yang membidangi akuntansi.

“Kegiatan ini adalah satu wujud implementasi kerja sama perguruan tinggi dengan profesi, baik itu IAI maupun IAPI untuk meningkatkan kompetensi SDM di kampus agar inline dengan kondisi di lapangan,” ujarnya.

Menurut Afif, kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka sebenarnya sudah membuka ruang bagi mahasiswa untuk lebih dekat dengan dunia kerja. Namun tanpa penguatan kolaborasi dengan organisasi profesi, peluang tersebut tidak akan optimal.

“Ini salah satu ikhtiar kita untuk meyakinkan bahwasanya kuliah di akuntansi itu punya prospek yang sangat baik dan kompetitif, tidak hanya nasional tetapi juga internasional,” katanya.

Dari sisi praktisi, kehadiran perwakilan IAPI Jawa Timur mempertegas bahwa industri membutuhkan lulusan yang tidak hanya kuat secara teori, tetapi juga siap menghadapi tekanan praktik audit.

Sementara itu, keterlibatan berbagai kampus seperti Universitas Negeri Malang, UIN Maliki Malang, Politeknik Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, STIE Asia hingga Universitas Merdeka Malang menunjukkan bahwa persoalan ini mulai dilihat sebagai isu bersama.

Forum ini pada akhirnya memperlihatkan satu hal, bahwa tantangan akuntansi bukan semata soal minat mahasiswa atau kurikulum kampus. Ada persoalan sistemik yang melibatkan regulasi, jalur profesi, hingga persepsi publik terhadap profesi akuntan itu sendiri. (A,Y)