Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yang berdampak langsung bagi kemaslahatan publik terus diakselerasi oleh sivitas akademika Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB) Universitas Brawijaya (UB). Langkah nyata ini mendapat dukungan penuh dan apresiasi positif dari jajaran rektorat, khususnya dalam mendorong peningkatan kuantitas serta kualitas hilirisasi riset di tingkat akar rumput.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi UB, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., menegaskan bahwa pelaksanaan program 3M dan expo inovasi teknologi Tepat Guna (TTG) seperti ini sangat linier dengan peta jalan strategis universitas untuk memacu produktivitas riset yang solutif. Melalui langkah ini, perguruan tinggi dapat hadir secara konkret untuk mendongkrak roda perekonomian dan kesejahteraan warga perkotaan.

“Dan tentunya nanti inovasi karya sivitas akademika Universitas Brawijaya ini akan dapat dihadirkan untuk masyarakat dan memberikan dampak pada peningkatan kualitas kesejahteraan dari masyarakat kita,” ungkap Prof. Unti Ludigdo di sela-sela kegiatan.

Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., saat memberikan sambutan dalam kegiatan Expo Inovasi FTAB UB pagi tadi (Foto : Agus Yuwono)
Wakil Rektor Bidang Riset dan Inovasi Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Unti Ludigdo, S.E., M.Si., Ak., saat memberikan sambutan dalam kegiatan Expo Inovasi FTAB UB pagi tadi (Foto : Agus Yuwono)

Jajaran Rektorat UB juga mengingatkan bahwa meskipun secara fisik beberapa alat rekayasa tersebut tampak ringkas dan sederhana, namun seluruh alat teknologi tepat guna yang tercipta sesungguhnya merupakan produk akhir dari metodologi kajian ilmiah yang terukur serta riset mendalam di lapangan. Pihak kampus menaruh harapan besar agar jajaran birokrasi pemerintahan daerah, kecamatan, kelurahan, hingga kelompok masyarakat dapat menyambut baik sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan sediaan alat tersebut.

Sinergi riset aplikatif ini diwujudkan secara masif oleh FTAB UB melalui penutupan program Mahasiswa Membangun Mitra (3M) yang dikemas dalam bentuk Expo Inovasi di Gedung Samantha Krida pagi ini. Dalam program pengabdian makro tersebut, sebanyak 856 mahasiswa didampingi oleh 102 dosen pembimbing dikerahkan untuk memetakan sekaligus mengintervensi problem sosial-ekonomi di seluruh wilayah Kota Malang.

Sementara itu, Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., memaparkan bahwa seluruh produk rekayasa teknologi buatan mahasiswanya tidak akan berakhir sebagai prototipe usang di laboratorium atau sekadar menjadi tumpukan berkas laporan ilmiah. Lewat gerakan strategis bertajuk “1 Kelurahan 1 Karya Inovasi”, sebanyak 57 unit alat Teknologi Tepat Guna (TTG) diserahkan secara simbolis untuk didistribusikan merata ke 57 kelurahan se-Kota Malang.

Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., saat memberikan keterangan kepada awak media pagi tadi (Foto : Agus Yuwono)
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, STP., M.App.Life.Sc., Ph.D., saat memberikan keterangan kepada awak media pagi tadi (Foto : Agus Yuwono)

“Sebanyak 57 karya inovasi teknologi tepat guna yang dipamerkan merupakan hasil rekayasa 856 mahasiswa FTAB UB yang dibimbing oleh 102 dosen. Inovasi-inovasi tersebut dikembangkan untuk menjawab berbagai persoalan riil di bidang pangan, agroindustri, lingkungan, ekonomi sirkular, pemberdayaan UMKM, hingga keberlanjutan pembangunan,” urai Prof. Yusuf Hendrawan.

Lebih lanjut, Prof. Yusuf menambahkan bahwa pola pendekatan terpadu ini juga menjadi sokongan linier terhadap visi prioritas Rektor UB melalui Program Kampung Lingkar Kampus (KLK). Hubungan inklusif yang erat antara kampus dan warga sekitar diharapkan mampu merajut ekosistem pemberdayaan ekonomi kreatif, sekaligus menjadi visualisasi nyata dari capaian global Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada sektor ketahanan pangan, energi bersih, industri inovatif, hingga kemitraan pembangunan.

Menatap proyeksi jangka panjang, manajemen Universitas Brawijaya berkomitmen memastikan program ini tidak mandek pada fase seremoni penyerahan aset saja. Ke depan, proses evaluasi dan kalibrasi berkala akan terus digulirkan guna menyaring varian inovasi unggulan yang memiliki daya serap tinggi di masyarakat luas, untuk kemudian diberikan pendampingan tingkat lanjut berupa peningkatan kapasitas mekanis hingga standardisasi skala produksi.

“Harapannya dengan bantuan alat-alat ini akan dapat meningkatkan kualitas pangan dan kualitas lingkungan masyarakat kita,” pungkas Prof. Unti Ludigdo optimis. (Red)