Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Universitas Brawijaya (UB) kembali melaksanakan program Mahasiswa Membangun Desa (MMD) 2026 dengan menerjunkan mahasiswa ke 76 desa yang tersebar di delapan kabupaten di Jawa Timur selama satu bulan, mulai 6 Juli hingga 6 Agustus 2026. Program ini difokuskan pada pengabdian masyarakat yang berkelanjutan melalui pengembangan teknologi tepat guna, pemberdayaan masyarakat, hingga pembentukan living laboratory di desa.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, mengatakan MMD merupakan agenda rutin tahunan yang dirancang agar program pengabdian kepada masyarakat tidak berhenti setelah mahasiswa selesai bertugas di lapangan.
“Tujuan akhirnya adalah membentuk living laboratory di masyarakat. Program-program yang dicanangkan diharapkan terus berlanjut dari tahun ke tahun sehingga dampak dari intervensi yang diberikan dapat diukur secara langsung,” ujar Prof. Widodo.

Menurutnya, konsep keberlanjutan menjadi pembeda MMD UB. Selama empat tahun terakhir, UB mempertahankan lokasi pengabdian yang sama sehingga program dapat dilanjutkan dan dievaluasi secara berkesinambungan.
Ia menyebut pendekatan tersebut telah menunjukkan hasil nyata, di antaranya terbentuknya berbagai usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta penerapan teknologi tepat guna (TTG) di sejumlah wilayah dampingan seperti Kabupaten Malang, Bojonegoro, Ngawi, dan Banyuwangi.
“Dampaknya sudah terukur. Banyak UMKM yang terbentuk dan teknologi tepat guna yang diterapkan karena programnya berkelanjutan di lokasi yang sama. Dengan begitu, manfaatnya bagi masyarakat bisa terus diukur,” katanya.

Pada pelaksanaan MMD tahun ini, UB menargetkan lahirnya lebih dari 100 produk teknologi tepat guna yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat desa. Selain itu, program tersebut juga ditargetkan menghasilkan sedikitnya 38 artikel ilmiah nasional maupun internasional serta lebih dari 500 publikasi di media massa sebagai bagian dari diseminasi hasil pengabdian.
Sementara itu, Wakil Rektor V UB, Prof. Unti Ludigdo, menjelaskan kontribusi mahasiswa tidak hanya berupa bantuan peralatan, tetapi juga transfer pengetahuan kepada masyarakat.
“Mahasiswa membawa teknologi tepat guna, bibit pohon buah, dan yang paling penting adalah ilmu pengetahuan untuk meningkatkan kapasitas masyarakat. Itu menjadi hal yang lebih utama dibandingkan sekadar memberikan alat atau barang,” ujarnya.
Sebanyak 76 desa sasaran MMD tersebar di 32 kecamatan pada delapan kabupaten, yakni Malang, Blitar, Kediri, Lamongan, Trenggalek, Ngawi, Bojonegoro, dan Banyuwangi.
Dalam pembentukan kelompok, UB melibatkan mahasiswa dari seluruh fakultas. Kampus juga berupaya menempatkan mahasiswa sesuai daerah asal kabupaten tujuan pengabdian, meski tidak seluruhnya dapat disesuaikan hingga tingkat desa.
“Semua fakultas terlibat. Kami berusaha menempatkan mahasiswa yang berasal dari kabupaten tujuan, tetapi untuk desa tertentu tidak selalu memungkinkan karena tidak semua desa memiliki mahasiswa yang kuliah di UB,” kata Prof. Unti.
Melalui pelaksanaan MMD yang berkesinambungan, Universitas Brawijaya berharap program pengabdian kepada masyarakat tidak hanya memberikan manfaat jangka pendek, tetapi juga mampu menciptakan dampak yang terukur dan berkelanjutan bagi pembangunan desa di berbagai wilayah Jawa Timur. (Ftm/A.Y)
