Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Fakultas Hukum Universitas Brawijaya (FH UB) kembali menunjukkan komitmen seriusnya nya dalam isu Hak Asasi Manusia (HAM). Dalam rangka memperingati September Hitam, sebuah momentum kelam yang ditandai dengan serangkaian pelanggaran HAM di Indonesia, FH UB menggelar konferensi mahasiswa internasional pertamanya mulai pagi tadi, Selasa (09/09/2025).
Mengusung tema ‘Civic Space Protection, Social Justice, and Equality in the Era of Uncertainty’ dengan menghadirkan Prof. Rafidah hanim, Dr. Dina Afrianty, Fransisca Fitri dan Rika Kurniaty, SH., MA., Ph.D., sebagai narasumber, konferensi ini menjadi wadah bagi para akademisi muda dari berbagai belahan dunia untuk mendiskusikan tantangan HAM di era modern.
Usai membuka kegiatan konferensi mahasiswa internasional tersebut, Dekan FH UB, Dr. Aan Eko Widiarto, S.H., M.Hum., menegaskan bahwa acara tersebut didedikasikan untuk mengenang Munir Said Thalib, alumni FH UB yang juga merupakan aktivis HAM terkemuka asal Malang.
“Selain kita dedikasikan untuk memperingati kematian Munir, juga kita ingin memperingati dan membedah September Hitam dari sisi akademik,” ungkap Dr. Aan Eko.

Ia berharap, konferensi ini bisa membangkitkan kesadaran bahwa isu HAM adalah masalah global yang harus diperjuangkan bersama. “Kita ingin menggugah bahwa isu Hak Asasi Manusia itu adalah isu yang global yang kita semuanya harus bisa mempertahankan agar Hak Asasi setiap manusia dapat dijamin, dipenuhi, dihormati, kemudian juga dipromosikan agar ada pemajuan terhadap HAM,” tambahnya.
Ada sisi yang menarik dari konferensi mahasiswa internasional tersebut, karena menurut Ketua Panitia konferensi yakni Zora Febriena Dwithia H.P., S.H., M.Kn., antusiasme peserta dari luar negeri sangat tinggi.
“Untuk yang pertama ini Alhamdulillah cukup banyak keterlibatan peserta dari berbagai negara baik dari narasumber maupun dari peserta. Ada yang dari Australia, Malaysia, Nigeria, Bangladesh, India, Madagaskar dan lain sebagainya,” jelas Zora.
Menariknya, kasus kematian Munir masih menjadi topik yang relevan. Zora menyebut sekitar 20 persen dari total paper yang masuk membahas tentang Munir, baik dari sisi perjuangannya maupun penegakan keadilan terkait kasus pembunuhannya.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini juga akan memilih tiga paper terbaik untuk diterbitkan sebagai artikel jurnal dan buku chapter sebagai luaran kegiatan tersebut.
Selain mengenang Munir, konferensi ini juga fokus pada isu ruang publik yang semakin terancam. “Pembahasannya sesuai tema ya tentang ruang publik (public space) dalam rangka demokrasi yang kita harapkan bisa digaungkan,” tutur Dr. Aan Eko.
Dr. Aan Eko menyoroti bagaimana di banyak negara, termasuk Indonesia, praktik otoritarianisme dan tindakan represif terhadap demokrasi semakin mengkhawatirkan. Ia memberikan contoh aksi massa di Indonesia beberapa waktu lalu yang menurutnya diperlakukan dengan pendekatan represif.

“Saat aksi demo mahasiswa kemarin pendekatannya cukup represif, sehingga banyak juga peserta aksi yang ditahan, dipenjarakan. Karena itu aspek provokasi-provokasinya juga dicampuri, sehingga ketika terjadi infiltrasi terhadap civic space, banyak tertangkap kamera, tertangkap pandangan masyarakat, adanya keterlibatan aparat dalam demonstrasi kemarin,” ujarnya.
Menurutnya, campur tangan dalam forum sipil justru memicu anarki. “Ini yang kita sayangkan fenomena akhir-akhir ini di Indonesia soal ruang keterbukaan publik,” pungkasnya.
Konferensi ini sendiri tidak hanya diikuti oleh mahasiswa Indonesia, tetapi juga mahasiswa asing dari berbagai negara seperti Bangladesh, India, Lithuania, Madagaskar, Nigeria, Filipina, dan Sierra Leone yang hadir secara langsung maupun virtual. (A.Y)
