Jakarta | ADADIMALANG.COM — Penggunaan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) sebagai metode pembayaran digital kini tak hanya meroket di tanah air, tetapi juga mulai merambah pasar global. Inovasi ini kian memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem pembayaran lintas batas, sambil memberikan kemudahan signifikan bagi turis asing saat berkunjung.
Data terbaru dari wilayah kerja Bank Indonesia (BI) Malang menunjukkan tren peningkatan yang konsisten. Hingga April 2025, tercatat lebih dari 869.815 merchant telah mengadopsi QRIS dengan total pengguna mencapai angka impresif, yaitu 8.538.988. Angka ini merefleksikan adaptasi masif di berbagai lapisan masyarakat dan pelaku usaha.
Salah satu fitur terbaru yang paling menarik perhatian adalah QRIS Cross Border. Fitur ini memungkinkan QRIS dipergunakan di sejumlah negara lain di kawasan ASEAN dan sekitarnya.
“Dari berbagai fitur yang baru dari QRIS ini yang menarik saat ini adalah QRIS Cross Border yaitu QRIS saat ini dapat dipergunakan di beberapa negara lain di wilayah Asean seperti Thailand sejak tahun 2022, Malaysia, Jepang, dan Singapura,” jelas Febrina selaku Kepala Kantor Perwakilan BI (KPwBI) Malang.
Febrina juga menyampaikan ekspansi QRIS ke depan, “Dan yang akan datang adalah di Korea Selatan, India, dan juga Uni Emirat Arab.”
Kemudahan bertransaksi ini juga berlaku sebaliknya. Dengan menggunakan QRIS Cross Border, para pengguna di luar negeri hanya akan dikenakan penyesuaian kurs mata uang dari Rupiah ke mata uang negara yang dikunjungi, tanpa adanya biaya tambahan lainnya.
“Jadi biaya lainnya tidak ada, hanya saja nanti ada penyesuaian kurs mata uang rupiah ke mata uang negara yang dikunjunginya,” tegas Kepala Kantor Perwakilan BI Malang.
Selain memfasilitasi pengguna Indonesia di luar negeri, kemudahan QRIS juga menjadi daya tarik utama bagi para wisatawan mancanegara yang berlibur di Indonesia. Kemudahan dan kecepatan yang ditawarkan membuat QRIS menjadi pilihan favorit, menggeser metode pembayaran konvensional.
“Jadi sudah semakin banyak turis yang menggunakan QRIS saat beraktivitas di Indonesia karena lebih mudah dan lebih cepat. Mereka tidak perlu lagi tukar uang sebagaimana penggunaan pembayaran seperti biasanya,” ungkap Febrina.
Menurut Febrina, popularitas QRIS didorong kuat oleh kalangan muda, khususnya Milenial dan Generasi Z (GenZ), yang dikenal sangat adaptif terhadap teknologi digital.
“Kemudahan dan efisiensi menjadi faktor utama yang membuat QRIS semakin diminati, termasuk oleh pelaku usaha kecil dan menengah (UMKM). Masyarakat kini makin terbiasa menggunakan pembayaran digital, mulai dari belanja harian hingga layanan publik,” pungkas Febrina.
Perkembangan ini menandakan bahwa QRIS tidak hanya sekadar alat pembayaran, tetapi telah menjadi jembatan digital yang menghubungkan Indonesia dengan ekosistem pembayaran global, menawarkan solusi praktis bagi warga lokal maupun turis asing. (A.Y)
