Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Momen kelahiran seharusnya menjadi kebahagiaan paripurna bagi seorang ibu. Namun, tanpa disadari, banyak ibu pasca melahirkan dihadapkan pada kerentanan psikologis yang dikenal sebagai Baby Blues Syndrome. Kondisi ini, yang ditandai dengan perasaan sedih, cemas, atau mudah marah, sayangnya masih sering diabaikan karena kurangnya pemahaman dan deteksi dini.
Menjawab tantangan tersebut, Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (FV UB) mengambil langkah inovatif. Melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat, dosen FV UB memperkenalkan sebuah solusi berbasis teknologi untuk membantu ibu-ibu pascapersalinan mengenali dan mengatasi gejala awal gangguan mental ini secara cepat dan akurat.
Mengangkat tajuk “Membangun Kesadaran Kesehatan Mental Ibu Postpartum melalui Deteksi Dini Baby Blues Syndrome Berbasis Artificial Intelligence (AI)”, kegiatan ini menargetkan ibu-ibu pasca melahirkan dan ibu muda di RW 09 Kelurahan Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang.

Kegiatan yang dipimpin oleh Citra Dewi Megawati, S.Sn., M.T., bersama tim dosen dan mahasiswa lintas program studi dari Fakultas Vokasi UB ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan mental ibu pascapersalinan dan memperkenalkan teknologi deteksi dini berbasis AI.
Citra Dewi Megawati menekankan bahwa banyak ibu tidak menyadari bahwa perubahan mood, rasa cemas, atau mudah marah yang mereka alami setelah melahirkan adalah tanda awal gangguan psikologis yang perlu penanganan serius.
“Banyak ibu yang tidak menyadari bahwa perasaan sedih, cemas, atau mudah marah setelah melahirkan bisa menjadi tanda awal gangguan psikologis yang perlu diperhatikan. Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan edukasi sekaligus solusi berbasis teknologi agar ibu-ibu dapat lebih waspada dan mendapatkan penanganan sejak dini,” ujar Citra Dewi Megawati.
Dalam sesi pengabdian, tim FV UB tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga memperkenalkan dan menyimulasikan penggunaan aplikasi deteksi dini berbasis AI. Teknologi ini dirancang khusus dengan pendekatan User-Centered Design (UCD) untuk memastikan kemudahan penggunaan oleh masyarakat. Sistem AI ini bekerja dengan menganalisis pola emosi dan perilaku ibu setelah melahirkan, memungkinkan identifikasi gejala Baby Blues Syndrome secara cepat dan akurat.
Lebih dari sekadar sosialisasi, tim pengabdian ini juga membangun sinergi yang komprehensif. Mereka berkolaborasi dengan kader kesehatan setempat untuk memastikan adanya tindak lanjut atau rujukan yang tepat bagi ibu yang terindikasi mengalami gejala Baby Blues Syndrome.

Kolaborasi ini diharapkan menjadi model ekosistem kesehatan mental yang berkelanjutan, melibatkan peran aktif antara perguruan tinggi, tenaga kesehatan, dan masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti pada edukasi, tetapi menjadi langkah awal menuju sistem pemantauan kesehatan mental ibu yang lebih komprehensif. Dengan teknologi AI, data dapat diolah untuk mendukung kebijakan preventif dan pelayanan kesehatan yang lebih baik di tingkat masyarakat,” tambah Citra Dewi Megawati.
Melalui inovasi ini, Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya kembali menegaskan perannya sebagai agen perubahan sosial yang membawa solusi teknologi terapan yang relevan dan langsung menyentuh kebutuhan masyarakat. Ini adalah wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam memajukan inovasi digital untuk kesejahteraan sosial. (Red)
