Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang hari ini, Sabtu (06/12/2025), kembali menggelar prosesi wisuda ke-50. Sebanyak 400 wisudawan dilepas dan siap terjun ke tengah masyarakat.
Dalam momen penting ini, Rektor UNITRI, Prof. Dodi Wirawan Irawanto, S.E., M.Com., Ph.D., memberikan pesan tegas mengenai pentingnya penguasaan kompetensi digital sebagai bekal utama menghadapi tantangan masa depan.
Acara pelepasan sarjana ini menjadi penanda resminya berakhir masa pendidikan bagi ratusan mahasiswa tersebut. Mereka hadir didampingi orang tua, mengikuti prosesi sakral yang menandai awal dari babak baru kehidupan profesional.
Dalam sambutannya, Prof. Dodi Wirawan menyoroti dinamika dunia kerja dan isu kebangsaan yang semakin kompleks saat ini sehingga dirinya secara eksplisit meminta para lulusan UNITRI Malang untuk segera mengaplikasikan ilmu dan kompetensi yang telah diperoleh selama kuliah terutama dalam aspek digital.

“Tantangan ke depan jelas akan semakin keras, tidak hanya sekadar dari sisi kebutuhan pasar kerja, tapi juga permasalahan yang dihadapi bangsa ini. Jadi saya berpesan kepada mereka untuk segera bisa terjun ke masyarakat dengan melihat berbagai isu yang mungkin di daerah-daerah masih belum pernah tertangani dengan baik, sehingga mereka bisa langsung implementasi,” ungkap Prof. Dodi.
Perkembangan teknologi yang sangat pesat menuntut para lulusan harus mampu menguasai dan mengaplikasikan kompetensi digital yang telah ditanamkan selama perkuliahan di UNITRI Malang. Hal ini bukan sekadar kebutuhan, melainkan suatu keharusan jika ingin memenangkan persaingan dan bertahan dalam kondisi saat ini.
UNITRI sendiri telah berupaya keras untuk menumbuhkan literasi digital yang masif di kalangan mahasiswa. Prof. Dodi menjelaskan bahwa penguatan ini dimulai sejak awal perkuliahan melalui unit-unit strategis kampus.
“Untuk penguatan digitalisasi ataupun kompetensi digital mahasiswa UNITRI Malang, kami mencoba untuk menumbuhkembangkan literasi digital mulai awal. Jadi kita punya unit-unit strategis yang ke depan itu mulai kita kuatkan seperti perpustakaan digital, kemudian sumber daya-sumber daya resources ilmiah secara digital sehingga mahasiswa UNITRI sejak awal kuliah itu kita harapkan sudah ketagihan terhadap literasi digital,” terangnya.
Meskipun proses digitalisasi di UNITRI sudah berjalan cukup baik, akselerasi yang lebih masif terus diupayakan guna membentuk budaya literasi digital yang kuat, tidak hanya bagi mahasiswa, tetapi juga dosen dan tenaga pendidik.
Prof. Dodi juga menyinggung problematika terkini di mana mahasiswa kerap merasa bahwa semua informasi sudah mudah diakses melalui gawai (handphone). Padahal, mereka seringkali belum memiliki kapabilitas untuk memverifikasi kebenaran dan validitas hasil dari kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI).
“Jadi sekarang problematikanya kan mahasiswa merasa semua itu sudah bisa dilihat dengan mudah di handphone padahal mereka belum memiliki kapabilitas untuk mengetahui hasil dari AI itu cukup kuat dan benar. Nah kita bertugas untuk memberikan pembekalan yang lebih sistematis di awal-awal mereka mengenal literasi digital ini,” tutupnya.
UNITRI menyadari bahwa tantangan terbesar saat ini masih berkutat pada budaya literasi digital yang memerlukan penguatan secara menyeluruh, mencakup seluruh civitas akademika kampus. (A.Y)
