Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkucecwara terus menggeser cara belajar mahasiswa dari sekadar hafalan teori menuju pengalaman nyata. Salah satunya melalui kegiatan studi visit ke Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang yang diikuti ratusan mahasiswa semester pertama belum lama ini.
Sekitar 200 mahasiswa yang tengah menempuh mata kuliah Bank and Other Financial Institution diajak melihat langsung bagaimana sistem keuangan nasional dijaga dan diawasi. Kunjungan ini menjadi pintu awal bagi mahasiswa untuk memahami peran OJK, sekaligus membedakannya dengan lembaga lain seperti Bank Indonesia dan Lembaga Penjamin Simpanan.
Dosen pengampu mata kuliah BOFI, Imamah Zuhroh, B.Sc., M.Com., menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang agar mahasiswa STIE Malangkucecwara memperoleh pembelajaran dari sumber yang autentik.
“Kami ingin mahasiswa belajar langsung dari praktiknya. Dengan datang ke OJK, mereka tidak hanya memahami teori, tetapi juga melihat bagaimana regulasi dan pengawasan keuangan dijalankan,” ujarnya Imama pagi tadi, Rabu (08/10/2025).
Selain mendapatkan paparan materi dari pihak OJK, mahasiswa juga berkesempatan berdialog dengan alumni STIE Malangkucecwara yang kini bekerja di lembaga tersebut. Interaksi ini memberi gambaran konkret tentang dunia kerja di sektor keuangan.
“Pembelajaran jadi lebih hidup. Mahasiswa kami dapat bertanya langsung, melihat jalur karier, dan memahami kompetensi apa saja yang perlu mereka siapkan sejak sekarang,” tambah Imamah.
Menurutnya, studi visit ini merupakan bagian dari strategi kampus membangun pembelajaran berbasis pengalaman. Mahasiswa diajak keluar dari ruang kelas untuk mengaitkan konsep akademik dengan praktik profesional.
“Pendekatan ini membuat teori tidak lagi terasa abstrak. Mahasiswa mulai memahami bahwa apa yang mereka pelajari adalah bekal nyata untuk masa depan,” tegasnya.
Imamah juga menyebut bahwa OJK secara rutin membuka peluang magang bagi mahasiswa. Kesempatan ini dinilai penting untuk memperkuat pengalaman dan meningkatkan daya saing lulusan STIE Malangkucecwara.
Sementara itu, Kepala OJK Malang Farid Faletehan menekankan bahwa literasi keuangan menjadi kebutuhan mendesak, terutama bagi generasi muda yang kini menjadi sasaran utama program inklusi keuangan nasional.
“Momentum ini bertepatan dengan Bulan Inklusi Keuangan 2025. Tujuannya agar anak muda mengenal investasi yang sehat, legal, dan diawasi,” jelasnya.
Farid mengingatkan bahwa maraknya penawaran investasi ilegal masih menjadi ancaman serius. Karena itu, edukasi sejak dini dinilai penting agar mahasiswa mampu membedakan produk keuangan resmi dan berisiko.
“Kami tekankan bahwa investasi itu bisa dimulai sejak muda. Banyak yang mengira butuh modal besar, padahal dengan seratus ribu rupiah saja sudah bisa membeli saham,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa langkah awal berinvestasi bukan soal uang, melainkan pengetahuan.
“Sebelum investasi dana, investasi dulu pengetahuan. Mahasiswa perlu belajar mengelola keuangan pribadi, menabung, dan menyisihkan minimal sepuluh persen untuk investasi,” imbuhnya.
Data OJK menunjukkan tren positif pertumbuhan investor muda di wilayah Malang. Dalam setahun terakhir tercatat sekitar 13 ribu investor baru, dengan rata-rata seribu investor baru setiap bulan. Mayoritas berasal dari kalangan mahasiswa dan generasi di bawah 30 tahun.
Namun di sisi lain, Farid juga mengungkapkan masih tingginya kasus penipuan investasi. Di wilayah kerja OJK Malang, terdapat lebih dari 1.700 aduan masyarakat, dengan sekitar 11 persen berkaitan dengan investasi bodong.
“Modusnya makin beragam, mulai dari pesan WhatsApp, situs palsu, hingga aplikasi yang meminta data pribadi. Karena itu, kewaspadaan harus terus dibangun,” jelasnya.
Melalui kolaborasi ini, STIE Malangkucecwara menegaskan komitmennya menghadirkan pendidikan ekonomi yang relevan dengan realitas zaman. Perpaduan teori, pengalaman lapangan, dan dialog langsung dengan praktisi diharapkan mampu mencetak mahasiswa yang cerdas finansial, kritis, dan siap menghadapi dinamika dunia keuangan modern. (A.Y)
