Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya terus berupaya untuk meningkatkan kualitas lulusannya yang mampu bersaing di kancah global. Persoalan utama yang muncul bukan terletak pada kemampuan teknis, melainkan pada mentalitas generasi muda yang dinilai belum cukup tangguh untuk menembus batas negara.
Guna membedah persoalan tersebut, Departemen Bisnis dan Hospitality Vokasi UB menghadirkan Ira Puspadewi, alumni UB yang pernah menjabat sebagai Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry periode 2017 sampai 2024, dalam kuliah tamu bertajuk ‘Fly High and Stay Grounded’ siang hari tadi, Rabu (25/02/2026). Kegiatan kuliah tamu ini diikuti lebih dari 350 mahasiswa dari tiga program studi di Vokasi UB.
Dalam sambutannya, Dekan Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya, Mukhammad Kholid Mawardi menegaskan bahwa pendidikan vokasi sebagai ilmu terapan membutuhkan wawasan langsung dari praktisi. Ia berharap mahasiswa akan dapat memiliki kemampuan global namun tetap memegang teguh filosofi lokal.

“Jadi sesuai tema kegiatan ini, kita berharap lulusan kita dapat terbang tinggi berkarir dan jika bisa menembus batas negara dengan bekerja di luar negeri. Meski memiliki kemampuan global, namun mereka juga harus tetap memiliki value filosofi lokal. Oleh karena itu kami hadirkan bu Ira Puspadewi yang pernah berkarir di luar negeri namun tetap bangga dengan negaranya,” ungkap Kholid Mawardi.
Sementara itu dalam paparannya, Ira Puspadewi mengungkapkan fakta lapangan bahwa kualitas lulusan Indonesia sebenarnya tidak kalah saing dengan tenaga kerja luar negeri secara teknis. Namun, kendala psikologis seperti ketergantungan pada keluarga masih menjadi tembok besar bagi mereka untuk berkarier di luar negeri.

“Hanya saja persoalan mental orang Indonesia menjadi kendala. Selain faktor penguasaan bahasa asing, mentalitas yang masih sulit jauh dari keluarga juga menjadi penghalang orang Indonesia menjadi bagian dari tenaga kerja global,” jelas Ira.
Berdasarkan pengalamannya selama belasan tahun menangani wilayah Asia di perusahaan ritel asal Amerika, Ira membandingkan daya saing Indonesia dengan negara tetangga seperti Singapura, Filipina, hingga India. Menurutnya, Indonesia sering kali tertinggal dalam ranah kompetisi global karena faktor ketahanan mental yang belum kuat.
Ira menekankan bahwa alasan jauh dari keluarga seharusnya tidak lagi menjadi hambatan di era digital. Keberhasilan anak bangsa di luar negeri justru menjadi instrumen penting dalam mengangkat martabat dan kesejahteraan bangsa di mata dunia.
“Kita sering kalah bukan karena skill. Secara kemampuan teknis kita masuk. Tapi mentalitas kompetitif di ranah global itu yang belum kuat. Di mana pun kita bekerja, yang penting bikin bangga Indonesia. Kalau nama Indonesia harum karena kerja kita, kesejahteraan bangsa itu akan ikut terangkat,” tegas Ira.
Melalui diskusi ini, Fakultas Vokasi UB berupaya mendorong para mahasiswanya untuk lebih berani mengambil risiko dan memperkuat motivasi di tengah dinamika bisnis global yang semakin kompetitif. (A.Y)
