Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Upaya menghidupkan kembali permainan tradisional mendapat respons luas dari masyarakat. Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi ke 112 Kota Malang, Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia Malang Raya bersama Pemerintah Kota Malang menggelar kompetisi dakon dan bola bekel di sejumlah pusat perbelanjaan.

Salah satu lokasi yang menjadi pusat kegiatan adalah Malang Town Square atau MATOS. Di tempat ini, rangkaian lomba telah berlangsung sejak 8 hingga 17 April 2026 untuk tahap pendaftaran dan penyisihan.

Antusiasme peserta terlihat dari jumlah pendaftar yang mencapai sekitar 190 orang untuk lomba dakon dan 70 orang untuk bola bekel. Peserta berasal dari berbagai kalangan, mulai anak anak, mahasiswa, hingga lansia.

Marcom Manager MATOS, Sasmita Rahayu, menjelaskan bahwa kompetisi ini dilaksanakan secara bertahap hingga babak final.

“Jadi setelah babak penyisihan mulai tanggal 8 hingga 17 April 2026 hari ini akan digelar babak selanjutnya hingga babak final kompetisi Dakon yang diikuti 85 orang yang telah lolos dari babak penyisihan. Sementara hari Minggu besok akan digelar babak berikutnya hingga final untuk kompetisi bola bekel yang diikuti oleh 35 orang. Semua ini akan memperebutkan piala Wali Kota Malang,” jelas Sasmita di sela kegiatan, Sabtu (18/04/2026).

Menurutnya, tingginya minat masyarakat menjadi sinyal bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat di tengah kehidupan modern.

“Sesuai dengan komitmen dari pimpinan APPBI yakni Bu Vivi, maka harapannya nanti di semua mall anggota APPBI akan menyediakan mainan mainan tradisional sehingga harapannya nanti akan ada ruang tersendiri untuk bermain di saat orang tuanya berbelanja. Dengan begini dapat mengurangi waktu anak anak bermain gadget,” ungkapnya.

Untuk memperkuat suasana, MATOS juga menghadirkan pelaku UMKM yang menyajikan kuliner khas tempo dulu. Pengunjung dapat menemukan jajanan seperti dawet, leker, hingga rangin yang mengingatkan pada suasana masa lalu.

“Nah ini kan memang relate ya sesuai konsep dimana kita berbicara tentang suasana di desa Matos jadi makanannya juga makanan desa ya kayak tempo dulu seperti dawet, leker, rangin dan segala macem kuliner tempo dulu,” pungkas Sasmita.

Salah satu peserta, Tiara Salma Noviandira, mengaku mengetahui kompetisi ini melalui media sosial dan tertarik untuk ikut karena hobi bermain dakon sejak kecil.

“Saya memang suka bermain Dakon ini dari kecil dan sekarang saya sudah kuliah. Saya sudah menang di babak penyisihan dan hari ini mengikuti pertandingan ke dua. Pokoknya seru mengikuti kompetisi di MATOS ini,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Anis, peserta lain yang merasakan pengalaman berbeda saat mengikuti lomba ini.

“Kompetisi di MATOS ini seru banget, harus diulang lagi setiap tahunnya ya karena melestarikan permainan permainan tradisional mengingat sekarang ini anak anak lebih banyak bermain gadget daripada bermain permainan tradisional. Keseruan yang lain kompetisi ini bebas usia sehingga mulai anak anak hingga lansia bisa bertanding bersama,” ungkapnya.

Para pemenang dari babak final di masing masing pusat perbelanjaan nantinya tidak berhenti sampai di situ. Mereka akan kembali dipertandingkan pada 24 April 2026 di Balaikota Malang, untuk berhadapan dengan perwakilan dari mall lain serta kontingen dari Pemerintah Kota Malang.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap permainan tradisional tidak hanya menjadi nostalgia, tetapi kembali menjadi bagian dari aktivitas keseharian masyarakat lintas generasi. (A.Y)