Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) RI Benjamin Paulus Octavianus mengapresiasi penanganan Tuberkulosis (TB) di Kota Malang. Menurutnya, capaian pelacakan kontak serumah hingga integrasi layanan kesehatan di daerah ini layak menjadi contoh bagi daerah lain, bahkan akan diadopsi sebagai bagian dari program nasional. Pernyataan tersebut disampaikan Benyamin saat meninjau pelayanan Puskesmas Cisadea Kota Malang, Kamis (30/7/2026)
Ia mengatakan kunjungannya merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto yang menargetkan pemberantasan tuberkulosis sebagai salah satu program prioritas pemerintah. Karena Indonesia masih menempati peringkat kedua dunia dengan jumlah kasus TB terbanyak.
“Indonesia saat ini menjadi negara dengan kasus TB nomor dua di dunia. Karena itu kami diperintahkan untuk memperkuat program pemberantasan TB, tidak hanya mengobati pasien yang sakit, tetapi juga melakukan pencegahan pada orang yang melakukan kontak serumah,” ujarnya.
Benjamin menjelaskan, selama lima tahun terakhir capaian penemuan kasus TB di Indonesia meningkat signifikan. Jika sebelumnya hanya sekitar 48 persen, kini telah melampaui 80 persen. Namun, menurutnya, tantangan terbesar masih terletak pada upaya pencegahan melalui pemeriksaan dan pemberian terapi pencegahan bagi anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TB.
Di Kota Malang, capaian pelacakan kontak serumah telah mencapai 68 persen. Angka tersebut dinilai jauh di atas rata-rata nasional.
“Untuk ukuran nasional sudah sangat tinggi. Jawa Timur, Jawa Barat, dan Banten sudah cukup baik dalam penemuan kasus maupun pencegahannya, tetapi masih banyak provinsi yang program pencegahannya belum berjalan optimal,” katanya.
Ia mengajak masyarakat yang tinggal serumah dengan pasien TB untuk memanfaatkan layanan pemeriksaan kesehatan. Menurutnya, warga yang belum terinfeksi dapat memperoleh terapi pencegahan sehingga risiko menjadi penderita TB di kemudian hari dapat ditekan.
Selain capaian program TB, Benjamin juga memuji kualitas layanan kesehatan dasar di Kota Malang. Berdasarkan hasil peninjauannya, seluruh fasilitas di puskesmas dinilai lengkap, mulai dari tenaga kesehatan hingga sistem pelayanan yang telah terintegrasi.
Ia mengungkapkan, sistem informasi kesehatan di Kota Malang memungkinkan petugas memetakan kasus TB secara rinci hingga tingkat kecamatan dan alamat rumah. Melalui sistem tersebut, wilayah dengan tingkat penularan tinggi dapat segera diidentifikasi sehingga penanganan menjadi lebih cepat dan tepat sasaran.
“Sistem seperti ini yang ingin kami adopsi untuk program nasional. Kota Malang sudah sangat baik dalam integrasi pelayanan kesehatannya,” ujar Benyamin.
Menurutnya, keberhasilan pemberantasan TB tidak dapat dilakukan oleh Kementerian Kesehatan semata. Program tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, aparat kewilayahan, hingga tenaga kesehatan agar target eliminasi tuberkulosis dapat tercapai. (Ftm/A.Y)
