Tetap konsisten berjualan, adaptif dan berdoa menjadi senjata Widodo, penjual mie ayam gerobak dorong untuk terus bertahan selama pandemi.
ADADIMALANG – Kondisi pandemi yang hampir dua tahun melanda Indonesia akibat paparan Covid-19 terasa begitu berdampak pada banyak sektor, termasuk usaha.
Tidak hanya sektor usaha bidang yang besar, usaha masyarakat dalam skala kecilpun merasakan imbas dari pandemi yang menghantam seluruh belahan dunia ini.
Tak sedikit perusahaan besar yang akhirnya menutup usahanya sementara, mengurangi jumlah karyawan atau mengurangi jumlah produksinya hingga gulung tikar atau tutup usaha untuk selamanya.
Meski kondisi dirasakan sulit, tak sedikit pula usaha masyarakat yang ternyata terus bertahan meski hampir dua tahun pandemi melanda.
“Sejak adanya pandemi Corona (Covid-19) itu, pembeli langsung turun drastis. Dan belum pulih hingga saat ini,” ungkap Widodo, salahsatu penjual mie ayam Calista di kota Malang.
Widodo yang berjualan mie ayam khas Solo dengan berkeliling menggunakan gerobak dorong ini mengaku penjualannya menurun hingga 30 persen dari kondisi normal.
Mengingat dirinya membeli bahan baku dari pemilik gerobak yang disewanya kurang dari Rp.10 ribu setiap harinya, membuat pria asal Provinsi Jawa Tengah menyiasatinya dengan menyesuaikan kondisi pasar.
“Karena terjadi penurunan pembeli dan bahan mie tidak bisa dikembalikan jika tidak habis, maka setiaphari saya hanya membeli sekitar 70 persen dari kondisi normal. Selain itu saya masukkan ke dalam kulkas jika masih tersisa dalam satu hari, tapi itu juga tidak dapat bertahan lama. Hanya satu malam mampu bertahan, besoknya harus segera dijual,” ungkap pria berkumis ini.
Selain menyesuaikan jumlah bahan mie yang dibeli dan dibawa setiap harinya, Widodo menyadari penurunan jumlah pembelinya itu karena semua orang juga terdampak pandemi Covid-19.
“Semuanya juga lagi terdampak mas, sehingga daya beli pasti turun. Semuanya menghemat yang akhirnya jarang beli makanan di luar seperti biasanya,” ujar Widodo.
Widodo yang berangkat setiap pukul 12.00 WIB ini mengaku tidak memiliki jadwal yang pasti untuk pulang ke rumah karena harus menghabiskan bahan baku mie yang telah dibelinya dari sang pemilik gerobak mie.
“Dulu saat sebelum pandemi, maksimal saat maghrib itu sudah dapat pulang. tapi sejak pandemi ini meski mie yang dibawa telah dikurangi maghrib seringnya masih ada di jalan menghabiskan bahan mie sambil berkeliling,” ujar Widodo sambil pandangannya menerawang jauh.
Meski kondisi sulit dan pembelinya turun, Widodo mengaku terus bertahan dengan cara tetap berjualan atau menjalankan usahanya dengan menyiasati kondisi-kondisi yang ada saat ini.
“Ya namanya juga bekerja menghidupi keluarga, kalau tidak bekerja besok mau makan apa. Satu-satunya cara agar tetap bertahan ini ya tetap berjualan, tetap berusaha mendapatkan pendapatan untuk dapat bertahan hidup,” beber Widodo yang tinggal di rumah kontrakan bersama keluarganya di kota Malang.
Selain terus bekerja atau menjalankan usahanya secara konsisten, berdoa juga menjadi kebiasaan yang terus dilakukan oleh Widodo di sela-sela usahanya berjualan mie ayam Calista di kota Malang ini.
Adi, salahsatu masyarakat sekitar jalan Sunandar Priyo Sudarmo saat diwawancara mengakui sering melihat gerobak mie ayam Calista yang di dorong oleh Widodo ini berhenti di salahsatu mushola di sekitar tempat tinggalnya.
“Pernah saat saya mau beli ternyata gerobaknya malah ditinggal. Ternyata penjualnya masih sholat dan berdoa di mushola. Sering saya lihat gerobaknya berhenti di depan mushola,” ungkap Adi.
Hal yang sama juga terjadi saat ditemui di jalan Sunandar Priyo Sudarmo, dimana Widodo tengah menjalankan sholat dan memanjatkan doa di mushola sehingga beberapa pembeli terpaksa menunggu cukup lama.
“Meski harus menunggu tapi saya tidak keberatan, apalagi kalau melihat mas penjualnya juga rajin beribadah. Jadi sayang kalau harus batal memberikan rezeki,” ungkap Adi yang membeli dua porsi mie ayam Calista.
Saat dikonfirmasi kepada Widodo, ternyata pria berkumis ini mengaku selain menjalankan ibadah dan berdoa, berhenti di mushola tersebut membuat dirinya sempat untuk beristirahat setelah berkeliling-keliling mendorong gerobak mie.
“Iya mas, kita harus tetap berdoa agar diberi keselamatan, kelancaran dan juga rejeki. Apalagi dalam kondisi seperti saat ini, semoga kondisinya dapat segera normal kembali ya, aamiin,” ungkap Widodo.
Sebelum mengakhiri wawancara singkat, Widodo menjawab tetap konsisten berjualan atau menjalankan usaha dengan menyesuaikan kondisi pandemi saat ini serta beribadah dan berdoa adalah resep dirinya mampu bertahan dalam kondisi pandemi yang hampir dua tahun lamanya ini belum juga usai di Indonesia. (A.Y)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.