ADADIMALANG – Setelah satu hari kemarin (08/8) rombongan Menteri Pertanian Republica Democratica De Timor Leste yaitu Regio Salu mendatangi beberapa tempat di wilayah Kabupaten Malang, sekitar pukul 15.00 WIB rombongan delegasi dari Timor Leste tiba di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh, di jalan Joyo Agung Atas nomor 2 kota Malang.

Kedatangan rombongan Menteri Pertanian tersebut terkait dengan adanya Institusi Penerima Wajib Lapor (IPWL) yang ada di pondok pesantren Bahrul Maghfiroh, yang diakui sudah mulai banyak dikenal masyarakat baik di Malang Raya ataupun Indonesia dan Internasional.

Usai ditemui Gus Luqmanul Karim selaku pengasuh pondok pesantren Bahrul Maghfiroh, rombongan Regio Salu meninjau langsung tempat terapi dan mengetahui cara-cara terapi di IPWL tersebut.

Kepada rombongan menteri Gus Lukman menyatakan bahwa di IPWL Bahrul Maghfiroh tersebut tidak menggunakan tindakan fisik apalagi obat-obatan kimia yang jelas-jelas dilarang.

“Kami hanya menggunakan pendekatan secara religi dan keluarga. Setelah diajak ngobrol, maka akan kami doakan mereka agar cepat sembuh dan kami ajak keluarga pasien untuk turut berperan serta,” ujar Gus Lukman.

Usai meninjau lokasi IPWL dan mendapatkan penjelasan dari Gus Lukman dan beberapa pengasuh IPWL, Regio Salu menyatakan bahwa konsep pendidikan dan cara terapi penyembuhan di IPWL Bahrul Maghfiroh tersebut bisa direplikasi sehingga bisa digunakan di Timor Leste.

Sebagai dampak dari dibukanya gerbang kerjasama ekonomi dalam program Special Zone Market Ekonomi di Timor Leste yang digagas oleh Xanana Gusmao, disadari bahwa dampak sosial termasuk penyalahgunaan narkoba mau tidak mau akan datang dan harus dihadapi.

Menyadari hal tersebut, maka Regio Salu belajar dari IPWL untuk tahu bagaimana cara-cara mengatasi penyalahgunaan narkoba yang ternyata efektif diterapkan selama ini.

Sementara itu, usai menerima kunjungan rombongan dari Timor Leste Gus Lukman menyatakan meskipun IPWL masih relatif baru dibuka namun sudah cukup banyak yang mengetahui dan ingin melakukan terapi.

“Kendala kami saat ini masih dalam penyediaan pengasuh yang harus menemani dan melakukan terapi kepada saudara-saudaranya yang mengalami ketergantungan narkoba,” jelas Gus Lukman.

Namun seiring waktu, diupayakan jumlah pengasuh IPWL Bahrul Maghfiroh bisa ditingkatkan lagi, sehingga semakin banyak lagi masyarakat yang bisa terlayani. (A.Y)