Universitas Brawijaya menyasar wilayah daratan hingga perairan melalui berbagai program yang dijalankannya.
ADADIMALANG – UB Forest yang dimiliki oleh Universitas Brawijaya (UB) dinilai mampu memberikan dampak yang signifikan dalam hal penurunan emisi Gas Ruang Kaca (GRK). Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Institute of Certified Sustainability Pracititioners (ICSP), Prof. Eko Ganis Sukoharsono, Mcom (Accy), Mcom-Hons, Ph.D dalam kegiatan Seminar Nasional Berkelanjutan di gedung Pasca Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) pagi tadi, Sabtu (14/01/2023).
Menurut Eko Ganis, UB Forest yang memiliki luas hingga 544 hektar tersebut terdiri dari dua macam hutan yakni hutan produksi seluas 500 hektar dan sisanya merupakan hutan lindung.
“Hutan produksi itu didominasi tanaman Pinus dan sebagian kecil Mahoni yang memiliki serapan karbon lebih besar, nah ke depan Pinus yang memiliki life time hingga 60 tahun itu perlu kita ganti dengan tanaman yang memiliki daya serapan karbon lebih besar lagi misalkan tanaman Polonia,” ungkap Eko Ganis.
Pengelolaan UB Forest menurut Eko nantinya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan Non UKT termasuk yang terkait dengan Carbon Market sehingga perlu mendapatkan sertifikasi yang telah diverifikasi dan divalidasi sesuai standar internasional.
Dalam mengoptimalkan potensi UB Forest tersebut, Universitas Brawijaya telah melakukan berbagai upaya di lahan seluas 544 hektar tersebut.
“Tentunya kita sebagai insan di perguruan tinggi membawa salah satu mandatnya yakni mengelola UB Forest ini untuk menjaga kelestarian lingkungan dan upaya-upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan yang terus kita upayakan dan lakukan. Kita melakukan proses penghijauan dan menanam tanaman endemik hutan sebenarnya, jadi tidak hanya sebagai hutan produksi tapi adalah kita menjaga ekosistem yang ada di hutan itu yang tujuannya untuk kelestarian alam itu kemudian juga untuk buffering dari penyerapan air hujan dan juga untuk mencegah erosi di daerah situ,” ujar Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, SSi., MSi., Ph.D., Med.Sc.
Salah satu kegiatan penanaman UB Forerst tersebut disebut dengan ‘tetenger bumi’ yang diakui oleh Prof Widodo sebagai bagian upaya UB untuk aktif melakukan penghijauan di berbagai tempat.
“Kemudian kita galakkan menanam pohon yang kita laksanakan dengan program Mahasiswa Mengabdi di 1.000 Desa sehingga target kita harapannya dapat menanam hingga sejuta pohon yang dilakukan secara bertahap. Selain itu kita juga melakukan banyak riset dan inovasi diantaranya adalah bagaimana mengolah sampah menjadi energi dan penelitian tentang energi terbarukan,” ujar Prof Widodo.
Selain UB Forest, Universitas Brawijaya telah mulai mengerjakan ekosistem tambak yang diketahui besar tingkat emisinya yang akan dikembangkan menjadi Green Farming.
“Banyak dilakukan teman-teman di Fakultas Perikanan dimana pilot projectnya ada di Tuban dan Probolinggo. Kemudian untuk wilayah pantai Selatan sedang on going dimana harapannya nanti bisa membuat ekosistem mangrove dari pantai hingga ke pesisir dan lain sebagainya. Jadi kita kerjakan dari permukaan tanah hingga ke perairan,” pungkas Rektor Universitas Brawijaya. (A.Y)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.