Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Gitaris legendaris band Padi, Piyu, berbagi tips menarik tentang investasi dalam acara Financial Literacy for Youth yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Malang pada Senin pagi (06/10/2025). Di hadapan lebih dari 1.000 mahasiswa dari berbagai kampus di wilayah Malang hingga Probolinggo di Gedung Samantha Krida Universitas Brawijaya (UB), Piyu mendorong generasi muda untuk segera memulai berinvestasi.
Piyu mengaku menyesal tidak memulai investasi sejak usia muda. Ia menekankan bahwa saat ini, investasi telah menjadi jauh lebih mudah dan terjangkau, bahkan hanya dengan bermodal ponsel dan dana kecil.
“Seandainya saya bisa memutar waktu, saya ingin menjadi seorang investor sejak muda. Karena kalau dulu berbicara investasi itu kan mahal ya, termasuk modal awalnya. Tetapi saat ini cukup menggunakan aplikasi dan handphone saja sudah bisa, dan juga modal sedikit saja sekarang sudah bisa investasi,” ungkap Piyu.

Ia pun menceritakan kisah investasinya sendiri yang berawal dari hobi. Piyu mengatakan, investasi pertamanya adalah membeli sebuah gitar yang nilainya kini telah berlipat ganda dari harga beli awal. “Ya bagaimana hobi itu dapat menjadi cuan ya melalui investasi itu ya,” tambahnya.
Acara edukasi ini merupakan inisiatif OJK Malang bersama Bursa Efek Indonesia (BEI) Jawa Timur dan Forum Komunikasi Industri Jasa Keuangan (FKIJK) Malang di Bulan Inklusi Keuangan 2025 ini. Kegiatan tersebut diselenggarakan menanggapi hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang mencatat tingkat literasi pasar modal sebesar 17,78 persen dan tingkat inklusi 1,34 persen.
Kepala OJK Malang, Farid Faletehan, menegaskan pentingnya literasi di tengah tren positif pertumbuhan investor baru, terutama dari kalangan muda. Data OJK menunjukkan bahwa sekitar 54 persen investor nasional adalah anak muda. Secara lokal, pertumbuhan investor baru di Malang Raya sangat pesat, dengan rerata mencapai 1.000 orang per bulan, atau sekitar 12.990 hingga 13.000 investor baru yang mayoritas adalah mahasiswa atau individu di bawah 30 tahun.

Farid mengingatkan para peserta agar tidak tergiur dengan tawaran keuntungan tidak wajar dari lembaga yang tidak terdaftar. Literasi keuangan menjadi tameng utama melawan maraknya kasus penipuan.
“Meskipun tingkat inklusinya masih cukup kecil, namun perkembangan jumlah investor terus menunjukkan tren positif. Sehingga OJK Malang menyatakan bahwa literasi adalah hal yang sangat penting. Terlebih saat ini juga bertepatan dengan bulan inklusi keuangan tahun 2025, sehingga kami gelar kegiatan ini sebagai literasi anak muda untuk mengenalkan pada investasi,” jelas Farid.
“Yang kedua, kita memberikan pemahaman kepada anak-anak muda bahwa investasi itu bisa dan harus dimulai dari sejak muda. Jadi hal-hal yang menjadi penghalang atau menjadi momok adalah modal yang ternyata di pasar modal saat ini hanya dengan Rp100 ribu saja sudah bisa beli saham beberapa lot. Tapi yang penting mulailah berinvestasi,” tegasnya.
Kewaspadaan ini bukan tanpa alasan. Berdasarkan data OJK Malang, terdapat sekitar 1.700 aduan dari masyarakat, dan 11 persen dari jumlah tersebut adalah aduan terkait kasus penipuan investasi.
“Berdasarkan data di OJK secara nasional diketahui 54 persen dari investor itu adalah anak muda, makanya kita menyasar anak muda untuk mulai berinvestasi dan tidak mudah tergiur dengan berbagai penawaran yang tidak masuk akal atau tidak wajar secara logika,” pesan Farid.
Ia menambahkan bahwa OJK terus gencar menyosialisasikan pentingnya verifikasi legalitas dan kewajaran produk investasi. Hal ini penting karena modus penipuan akan terus berevolusi seiring dengan perkembangan teknologi. Dengan bekal literasi yang kuat, diharapkan generasi muda dapat menjadi investor cerdas yang tidak hanya mengejar “cuan” tapi juga paham risiko dan aturan main. (A.Y)
