Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Prosesi wisuda selalu menjadi momen spesial. Namun, pada wisuda ke-22 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Widyagama Husada (WGH) Malang pagi tadi (25/10/2025), ada cerita yang berbeda dan inspiratif dari dua wisudawan terbaiknya.
Meskipun sama-sama meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sangat tinggi dan menyandang predikat Wisudawan Terbaik, jalan yang ditempuh Nuril Fa’izah dan Sukma Dwi Utami untuk meraih kelulusan sangatlah unik dan berlawanan.
Keduanya menunjukkan bahwa capaian akademik tertinggi bisa diraih melalui jalur yang tidak selalu sama.
Nuril Fa’izah, Raih IPK 3,91 Lewat Penelitian Komprehensif
Nuril Fa’izah, lulusan terbaik dari Program Studi D3 Kebidanan berhasil memukau dengan perolehan IPK 3,91. Mahasiswi berprestasi ini memilih jalur penelitian tugas akhir yang mendalam dan sesuai harapan institusi.
“Untuk tugas akhirku yakni melakukan penelitian terkait dengan pasien hamil sampai dengan nifas dengan melakukan penelitian secara komprehensif sesuai dengan harapan dari pihak kampus,” ungkap Nuril.
Semangat untuk menjadi yang terbaik diyakini Nuril sebagai motivasi terkuat yang mengantarkannya pada prestasi ini. Ia juga menekankan pentingnya keterampilan mengatur waktu dalam mencapai keberhasilan studi.
“Kemudian kita juga harus bisa memanajemen waktu kapan waktu untuk pendidikan, kapan waktu untuk kegiatan pribadi dan kapan waktu untuk kegiatan organisasi. Tetapi itu kembali kepada diri kita sendiri untuk mampu mengatur waktu kehidupan kita,” tambahnya.
Meski baru saja diwisuda, Nuril sudah memiliki rencana yang jelas. Ia mengaku ingin melanjutkan pendidikan lebih lanjut, namun harus tertunda sebentar karena telah diterima bekerja di salah satu klinik bersalin.
Sukma Dwi Utami, Lulus Tanpa Skripsi Berkat Program Magang BUMN
Berbeda dengan Nuril, kisah kelulusan Sukma Dwi Utami, S. KL., wisudawan terbaik dari Program Studi S1 Kesehatan Lingkungan, jauh dari jalur penulisan skripsi. Dengan IPK 3,84, perempuan asal Blora ini berhasil menyelesaikan studinya berkat program magang yang dikonversi menjadi tugas akhir.
“Jadi magang saya itu dikonversi menjadi pengganti skripsi. Dulu magangnya di Perkebunan Nusantara 1, Region 2 selama enam bulan,” jelas Sukma, ditemui di lokasi yang sama.
Sukma mengaku tidak menyangka akan terpilih menjadi salah satu wisudawan terbaik. Baginya, rahasia di balik keberhasilan ini cukup konsisten.
“Tips dari saya adalah konsisten belajar dan berusaha memiliki capaian prestasi selama berkuliah,” ujarnya.
Untuk para adik tingkatnya yang bercita-cita mengikuti jejaknya, Sukma berpesan agar aktif memantau informasi. Ia menyarankan untuk terus memantau situs atau website Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang menjalankan program magang, sebab program tersebut berpotensi dikonversi oleh pihak kampus sebagai pengganti tugas akhir.
Meskipun datang dari program studi berbeda dan menempuh jalan kelulusan yang berlainan, Nuril dan Sukma membuktikan bahwa dedikasi dan konsistensi adalah kunci utama dalam meraih prestasi akademik tertinggi di STIKES Widyagama Husada Malang. (A.Y)
