Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Tumpukan sampah plastik seringkali menjadi masalah pelik yang sulit terurai. Namun, bagi sekelompok mahasiswa kreatif dari STIE Malangkuçeçwara (ABM) Malang, limbah tersebut justru disulap menjadi peluang emas. Mengusung nama tim ‘Sakaresek’ yang merupakan akronim dari Kerajinan dari Sampah, para mahasiswa ini berhasil mengubah tutup botol plastik dan sampah plastik lainnya menjadi berbagai pernak-pernik dan aksesori fesyen bernilai jual tinggi.
Inovasi unik ini mengantarkan Tim Sakaresek meraih dana hibah bergengsi dari program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (PMW) yang diselenggarakan oleh Belmawa Kemendikti Saintek.
Tim Sakaresek yang diketuai oleh Rahmat Ardiansyah bersama anggotanya Diva Khoirun Nisaa, Rosanti Dina Natalia, dan Mela Purnamasari, menunjukkan kualitas idenya dengan menembus seleksi 700 besar dari total 6.700 proposal kewirausahaan yang diajukan dalam program PMW. Saat ini, mereka sedang berjuang keras untuk lolos ke babak 100 besar.
”Kita membuat pernak-pernik hiasan berbahan baku dari sampah ini karena kita melihat banyak sekali sampah plastik yang sudah sangat menggunung dan pengolahannya sangat susah. Oleh karena itu kita buat sampah plastik ini bisa lebih dekat ke masyarakat dengan cara membuatnya menjadi aksesoris,” jelas Ketua Tim Sakaresek, Rahmat Ardiansyah.

Proses yang dilakukan Tim Sakaresek terbilang kreatif. Sampah tutup botol plastik diolah menjadi aneka produk mulai dari pin, gantungan kunci, hingga anting-anting dengan metode pemanasan yang dilanjutkan dengan pembentukan, penghalusan, hingga tahap pewarnaan atau pengkilapan yang menghasilkan aksesori yang menarik.
Produk-produk ini dijual dengan harga yang sangat terjangkau, berkisar antara Rp5.000, hingga Rp20.000, mengingat bahan baku utamanya yang murah. Selain penjualan konvensional, Rahmat menambahkan bahwa mereka juga menjalankan program unik bernama SWATCO (Swapping Trash with Cooler).
”Kita juga menjalankan program SWATCO (Swapping Trash with Cooler) yaitu menukar sampah dengan produk yang telah kita buat,” ujar Rahmat.
Program Sakaresek sendiri telah berjalan sejak Mei 2025. Dalam waktu singkat, produk mereka telah menarik minat 661 konsumen. Penjualan ini didominasi oleh permintaan offline, seringkali untuk kebutuhan khusus seperti suvenir wisuda dan kegiatan lainnya.
Dengan lolosnya mereka ke 700 besar, langkah Tim Sakaresek semakin dekat menuju puncak kompetisi.
”Setelah lolos ke 700 besar, Insya Allah pada bulan November 2025 mendatang akan ada babak final yang akan dilaksanakan di Magelang yang berisi penilaian akhir dan kolaborasi bersama pelaku usaha-usaha lainnya. Setelah babak final pun produk Sakaresek akan tetap berjalan mengingat peminatnya juga terus bertambah sesuai visi kita untuk membuat sampah menjadi berkah,” pungkas Rahmat dengan optimisme.
Dosen Pendamping dan Pembina Tim Sakaresek, Rina Irawati, SE., MM., menyampaikan apresiasi positif terhadap konsep yang diusung mahasiswa bimbingannya tersebut. Ia menilai ide mengubah sampah menjadi aksesori adalah konsep yang luar biasa.
”Kelompok Sakaresek ini rutin berkonsultasi dengan saya sebagai dosen pembina, terlebih ada juga kewajiban untuk melaporkan setiap bulan progres perkembangannya ke Kemendikti Saintek,” ungkap Rina.

Menjelang babak seleksi menuju final, Rina Irawati membeberkan bahwa Tim Sakaresek semakin gencar melakukan berbagai kegiatan branding dan promosi. Mereka aktif mengikuti pameran dan memamerkan produk di lokasi-lokasi strategis seperti Car Free Day.
”Untuk dukungan dari kampus STIE Malangkuçeçwara tentunya sangat mendukung kepada kelompok Sakaresek untuk dapat memperoleh hasil terbaiknya,” tutup Rina, menegaskan komitmen kampus dalam mendukung inovasi mahasiswanya. (A.Y)
