Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Peringatan Dies Natalis ke-16 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya (FIB UB) ditutup dengan gelaran orasi dan penganugerahan Sabda Budaya pagi hari tadi, Rabu (03/12/2025).
Acara yang mengangkat tema “Samadya Danasmara Manunggal Rasa” ini menghadirkan para tokoh, seniman, dan pelaku budaya lintas bidang, sekaligus menjadi momentum FIB UB untuk meneguhkan perannya dalam pengembangan budaya Nusantara.
Dalam sambutannya, Dekan FIB UB, Sahiruddin, Ph.D., menegaskan bahwa Anugerah Sabda Budaya (ASB) telah menjadi tradisi akademik yang penting bagi FIB UB sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 2018 lalu. Tahun ini menjadi kali ketujuh ajang tersebut dilaksanakan, setelah sempat absen pada tahun 2021 akibat pandemi covid-19.

“Anugerah Sabda Budaya ini dimulai pada tahun 2018 namun pada tahun 2021 tidak dilaksanakan karena pandemi, dan pada tahun ini adalah pelaksanaan tahun ke-7. Mengambil tema ‘Samadya Danasmara Manunggal Rasa’ yang memiliki makna bahwa kita di Fakultas Ilmu Budaya marilah menyatukan rasa untuk bersama-sama mengembangkan dan melestarikan budaya yang ada di Nusantara ini,” ujar Sahiruddin.
Ia menambahkan, dukungan berbagai pihak menjadi penopang penting agar FIB UB semakin berdampak, sejalan dengan tagline fakultas tersebut sebagai pusat digital humanities dan cultural industry.
“FIB ini selain Fakultas Ilmu Budaya, juga disebut dengan Fakultas Inovasi Berdampak untuk mendukung UB yang Unggul dan Berdampak,” ungkapnya.

Apresiasi positif pada pelaksanaan ASB ini disampaikan oleh Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., yang dalam sambutannya menekankan bahwa anugerah budaya yang digelar FIB UB bukan sekadar acara seremonial. Menurutnya, budaya merupakan keunggulan manusia yang tidak tergantikan oleh teknologi.
“Anugerah ini diberikan untuk merayakan ketokohan, dedikasi, dan pengabdian dalam bidang budaya. Ini bukan sekadar seremonial belaka, tetapi komitmen kita bersama untuk melesatkan budaya yang menjadi kelebihan manusia di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan AI dimana budaya justru menjadi fix point yang membedakan manusia dengan algoritma,” ujar Prof. Widodo.
Kepada awak media, ia menegaskan bahwa komitmen UB dalam memelihara dan menghidupkan ekosistem budaya menjadi bagian dari strategi besar menuju daya saing global.
“Dan budaya-budaya ini merupakan karya cipta dan rasa dari bangsa Indonesia untuk memahami lingkungan, memahami kehidupan. Dan pemahaman-pemahaman yang adiluhung ini yang sebenarnya menjadi kekuatan kita untuk kita gunakan mendorong pertumbuhan ekonomi dan juga diplomasi kita ke masyarakat global,” tuturnya.
Tiga Figur Budaya Terpilih sebagai Penerima ASB FIB UB 2025
Ditemui di sela-sela kegiatan, Koordinator Anugerah Sabda Budaya 2025, Yohanes Padmo, memaparkan bahwa proses kurasi berlangsung cukup panjang. Dari sekitar sepuluh nama dalam daftar nominasi, kurator memutuskan tiga tokoh yang dinilai paling layak menerima penghargaan tahun ini.
“Nama-nama beliau ini sudah ada dalam list kami sejak Anugerah Sabda Budaya tahun-tahun sebelumnya, tetapi kemudian ketika kami tim kurator bertemu dan berkumpul kami dengan bulat memutuskan bahwa ada tiga nama yang tahun ini dinilai paling layak mendapatkan anugerah dari sekitar 10 nama yang ada di list kami,” ungkapnya.
Ketiga penerima penghargaan berasal dari tiga bidang seni budaya berbeda yakni bidang Sastra diberikan kepada Tengsoe Tjahjono, seorang penyair, sastrawan, cerpenis, dan penggagas pentigraf gravidus.
“Penerima anugerah dari Seni Tradisi adalah Winarto Ekram, pengembang genre baru seni tari seperti drama tari, sentra tari, hingga teater tari, sekaligus pendiri sekolah tari. Yang telah menciptakan 109 tarian. Penerima anugerah berikutnya dari bidang Seni Rupa adalah Dadang Rukmana,” ungkap Padmo.
Padmo menjelaskan bahwa indikator penilaian mengacu pada motto FIB UB, yakni unggul dan berdampak.
“Kami mencari seniman-seniman, budayawan yang dalam satu tahun hingga dua tahun ini memiliki keunggulan tertentu dan memiliki dampak, baik dampak ke masyarakat dan juga dampak ke internal kami di FIB UB,” tambahnya.

Usai menerima anugerah, Winarto Ekram menyampaikan rasa syukur dan menyebut penghargaan ini sebagai dorongan bagi dirinya untuk terus berkarya.
“Tahun ini saya berkesempatan menerima anugerah Sabda Budaya dimana anugerah ini bagi saya sangat menarik dan luar biasa. Tentunya ini akan menjadi pendorong saya untuk dapat lebih berkipah lagi supaya lebih aktif berkarya tari,” pungkas Winarto Ekram.
Gelaran Anugerah Sabda Budaya 2025 tidak hanya menjadi bentuk penghormatan, tetapi juga pengingat bahwa budaya adalah jantung peradaban yang harus dijaga, diperkuat, dan diwariskan. Di tengah derasnya arus digitalisasi, FIB UB menegaskan komitmennya menjaga ruang hidup bagi nilai-nilai budaya yang membentuk karakter bangsa. (A.Y)
