Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Kabar membanggakan kembali datang dari dunia pendidikan vokasi Kota Malang. Tiga srikandi muda dari Politeknik Negeri Malang (POLINEMA) berhasil membuktikan bahwa limbah pangan bisa diubah menjadi produk bernilai ekonomis tinggi.

Tim bisnis bernama Elixir Elk ini sukses menyabet Juara 2 Kategori Wirausaha Muda Syariah dalam ajang bergengsi Indonesia Sharia Financial Olympiade (ISFO) 2025, kompetisi tingkat nasional yang digelar Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bank Syariah Indonesia (BSI). Prestasi mereka tersebut diganjar dengan pemberian dana pembinaan sebesar Rp20 juta.

Kunci kemenangan tim Elixir Elk ini terletak pada inovasi kuliner unik bernama Mie CAKKA. Bukan mie instan biasa, produk ini lahir dari kepedulian terhadap isu lingkungan dan kesehatan.

Rahasia Cangkang Telur dan Kulit Semangka

Siapa sangka, bahan dasar mie ini berasal dari limbah yang sering dibuang begitu saja. Nama CAKKA sendiri merupakan akronim dari bahan utamanya yakni CAK (Cangkang Telur) dan KA (Kulit Semangka).

Fadhilah Putri Aprilia Maharani, mahasiswa D4 Manajemen Pemasaran sekaligus inisiator ide ini mengungkapkan bahwa Mie CAKKA lahir dari keresahan pribadinya sebagai pecinta mie instan.

“Awalnya dari diri saya sendiri. Saya hobi makan mie instan, tapi sadar kalau banyak produk di pasaran kurang sehat. Ada opsi mie sehat, tapi rasanya seringkali kurang pas di lidah,” ungkap Fadhilah.

Dari sanalah riset dimulai. Mereka menemukan bahwa cangkang telur kaya akan kalsium yang baik untuk tulang, sementara kulit semangka mengandung kalium yang dibutuhkan tubuh. Kombinasi ini menghasilkan mie instan yang tidak hanya enak, tapi juga zero waste (minim sampah), tanpa pengawet, dan bebas MSG.

Perjalanan Tim Elixir Elk yang juga digawangi oleh Venydia Checika Rani (D4 Manajemen Pemasaran) dan Kanaya Abdielaramadhani Hidayat (D4 Sistem Informasi Bisnis) tidaklah mudah.

Venydia menceritakan ketatnya persaingan melawan sekitar 170 tim mahasiswa dari seluruh Indonesia. Setelah lolos kurasi proposal bisnis yang ketat, mereka masuk ke jajaran 10 besar dan harus menyiapkan video profil bisnis hanya dalam waktu tiga hari.

“Kami take video H-3 di sebuah kafe di Malang sambil masak Mie CAKKA. Benar-benar multitasking, antara belajar dan produksi konten. Alhamdulillah, hasilnya membawa kami ke 3 besar,” kenangnya.

Kanaya menambahkan, strategi presentasi menjadi senjata rahasia mereka. Tim ini sangat fokus pada first impression atau kesan pertama di hadapan juri.

“Kami merancang hook di 3 hingga 5 detik pertama presentasi. Itu poin krusial untuk mengambil perhatian juri,” beber Kanaya.

Kesuksesan ini tak lepas dari bimbingan Dr. Tri Yulistyawati Evelina, SE., MM. Dosen pembina UKM Usaha Mahasiswa Polinema ini menyebut ketiga mahasiswanya memang memiliki mental juara sejak tingkat pertama.

“Peran saya lebih banyak memoles di awal, seperti cek proposal dan harmonisasi presentasi. Misalnya mengatur nada suara agar presentasi terdengar kompak dan meyakinkan,” jelas Dr. Tri.

Kini, meski masih diproduksi secara handmade dan dalam tahap pengembangan (bootstrapping), penjualan Mie CAKKA sudah merambah hingga Yogyakarta melalui pemasaran online dan Car Free Day (CFD).

Dana hadiah sebesar Rp20 juta rencananya akan dialokasikan untuk riset lanjutan dan standardisasi produk bersama ahli gizi. Tak berhenti di level nasional, Tim Elixir Elk kini tengah bersiap membawa Mie CAKKA ke panggung kompetisi internasional.

“Kami sedang diskusi dengan pabrik untuk formulasi ulang agar standar kualitasnya makin terjaga. Target berikutnya adalah lomba internasional,” tutup Kanaya optimis. (Red)