Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Pasca keberhasilan prestisius meraih Juara 1 Nasional dalam ajang apresiasi Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) seluruh Indonesia, pengelola Kampoeng Heritage Kajoetangan (KJT) Kota Malang tidak lantas berpuas diri.
Peningkatan kualitas fasilitas infrastruktur penunjang serta profesionalitas pelayanan (hospitality) kini terus dipacu guna mempertahankan eksistensi destinasi wisata berbasis cagar budaya tersebut.
Salah satu langkah konkret untuk mendongkrak performa pelayanan di lapangan adalah dengan membekali para pengelola lokal lewat stimulasi pemahaman materi serta kemampuan teknis (skill) yang difokuskan pada pembenahan di sektor pelayanan kuliner terintegrasi yang selama ini diproduksi secara swadaya oleh klaster Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) warga lokal untuk menyambut paket rombongan tamu reservasi.
Guna mewujudkan target tersebut, tim akademisi dari STIE Malangkuçeçwara (ABM Malang) yang secara konsisten mengawal fase perkembangan KJT, kembali memfasilitasi program penguatan kapasitas bagi fungsionaris Pokdarwis dan para pelaku usaha pangan di Kampoeng Kajoetangan.
Ditemui di lokasi pelatihan, Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Dosen STIE Malangkuçeçwara, Dr. Setiyawan memaparkan bahwa program edukasi sektoral kali ini dirancang istimewa dengan menghadirkan praktisi kuliner global, Chef Alfarizi Ananda Jose. Sang pakar sengaja didatangkan berkat rekam jejak profesionalnya yang telah melanglang buana mempraktikkan seni tata boga di berbagai jaringan hotel internasional.

“Volume kunjungan pelancong ke Kampoeng Heritage Kajoetangan grafik pertumbuhannya semakin masif dari waktu ke waktu. Maka konsekuensinya teman-teman pengelola wajib menguasai tata cara baku pemberian pelayanan prima (excellent service). Materi yang diujikan mencakup aturan tata krama makan (table manner), manajemen penyusunan komposisi menu yang estetik, hingga formula penyajian minuman penyambut (welcome drink),” urai Setiyawan.
Melalui penguasaan kompetensi pelayanan yang lebih terukur dan ramah, indeks kepuasan serta loyalitas wisatawan yang berkunjung ke kawasan Kajoetangan diharapkan dapat terkerek naik secara signifikan.
“Sebagai jawara nasional, rute pergerakan KJT sudah saatnya melompat ke pasar internasional, minimal penetrasi ke wilayah ASEAN, Cina, hingga Jepang. Masih banyak ceruk pasar global yang belum terpapar keunikan Kampoeng Heritage Kajoetangan. Selain promosi media digital, akselerasi bisa ditempuh dengan menyebarkan buklet profil resmi ke jaringan kedutaan besar. Lembaga STIE Malangkuçeçwara siap menjembatani dan membantu realisasi program tersebut,” imbuh Setiyawan.

Di sela-sela pelaksanaan pelatihan tersebut, Koordinator UMKM Kampoeng Heritage Kajoetangan (KJT), Nikmatur Rohmah menjelaskan bahwa agenda ini diikuti oleh seluruh perwakilan ibu-ibu penyedia logistik makanan dan minuman untuk kunjungan berbayar yang sudah melakukan reservasi.
“Latar belakang profesi mayoritas pengelola adalah ibu rumah tangga biasa, sehingga kami dituntut untuk terus belajar mentransformasi diri agar mampu menyajikan standard operating procedure pelayanan tamu yang layak dan profesional. Kendati berada di dalam perkampungan, kualitas hidangan dan etika penyajian kami tidak boleh kalah dengan standar industri umum,” kata perempuan yang akrab disapa Ninik tersebut.
Ninik berharap transfer pengetahuan dari juru masak berkelas dunia ini dapat menginjeksikan wawasan segar bagi eksosistem UMKM lokal, terutama dalam hal menyusun tata letak makanan, etika menyambut kedatangan wisatawan, hingga prosesi mengantarkan tamu pulang. Target utamanya adalah ilmu praktis yang dapat langsung diaplikasikan di lapangan sehingga pengunjung merasakan perbedaan kualitas rasa dan pelayanan secara nyata.
Sementara itu ditemui usai memberikan materi, narasumber utama pelatihan yakni Chef Alfarizi Ananda Jose memberikan testimoni positif terhadap antusiasme para peserta. Pria yang populer dengan sapaan Chef Rizza ini menilai dasar pemahaman kuliner ibu-ibu di KJT sejatinya sudah terbentuk sehingga tim pemateri hanya perlu melakukan pemolesan pada aspek prosedural operasional.
“Kita poles dan pertajam pada bagian prosedur pelayanan baku, estetika penataan makanan di atas piring (plating), hingga tata cara penyajian langsung ke meja konsumen. Dari sisi pengetahuan produk (product knowledge) dan orisinalitas bahan baku, mereka sebenarnya sudah sangat menguasai, ditambah lagi spirit belajar mereka sangat tinggi untuk berkembang,” pungkas Chef Rizza. (A.Y)
