UNITRI Gelar Tribute 50 Tahun Pengabdian Untuk Prof. Wani Dan Prof. Bambang Guritno
- account_circle Agus Yuwono
- calendar_month Minggu, 2 Jun 2024
- visibility 210
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Mampu membuktikan jika pendidikan berkualitas tidak harus mahal.
ADADIMALANG.COM | Kampus UNITRI – Sebagai wujud penghargaan atas dedikasi dalam dunia pendidikan selama 50 tahun, Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang menggelar ajang Tribute to Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo dan Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno fi kampus II UNITRI Malang siang hari tadi, Minggu (02/06/2024).
Dua orang profesor yang memulai pendidikan dan juga karirnya di Universitas Brawijaya (UB) ini juga merupakan dua dari tiga pendiri Universitas Tribhuwana Tunggadewi (UNITRI) Malang yang kini telah memiliki sekitar 7.000 mahasiswa aktif.
Kegiatan tribute tersebut dimulai dengan dengan pembacaan naskah tribute oleh Wakil Rektor I UNITRI Malang Prof. Dr. Ir. Widowati, MP., dan dilanjutkan dengan penyampaian testimoni beberapa mahasiswa dan bimbingan dari dua tokoh tersebut. Tribute diakhiri dengan pemberian cinderamata dari pihak kampus dan mahasiswa bimbingan kepada Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo dan Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno.
Ditemui terpisah, Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo menyampaikan kegiatan tribute tersebut merupakan ide dari beberapa mahasiswa bimbingan setelah mengetahui kedua dosen aktif tersebut telah mengabdi selama 50 tahun di dunia pendidikan.
“Setelag 50 tahun mengabdi, menurut saya memang ada perbedaan antara mahasiswa zaman saya mulai mengabdi dengan mahasiswa generasi saat ini. Jika mahasiswa zaman dulu itu kemauan belajarnya sangat tinggi meskipun fasilitas sangatlah terbatas sehingga mahasiswa harus semaksimal mungkin untuk mendapatkan bahan-bahan kuliah ataupun bahan bacaan dan sebagainya,” ungkap Ptof. Wani.
Sementara mahasiswa zaman sekarang menurut Prof. Wani dengan adanya fasilitas yang sudah sedemikian mudah justru semakin malas, terutama untuk membaca.
“Pesan saya untuk mahasiswa saat ini adalah membaca itu tidak bisa digantikan dengan melihat video di YouTube ataupun media sosial. Membaca itu beda,” ujar Prof. Wani.
Peaan kedua setelah menjalani 50 pengabdian menurutnya adalah tidak ada semuanya itu berjalan dengan mulus akan ada selalu halangan sehingga sebagai manusia tidak boleh putus asa dan harus tetap berupaya semaksimal mungkin.
“Pesan ketiga saya adalah jika keinginan atau doa kita belum dikabulkan maka yakinlah bahwa Tuhan itu akan memberikan yang lebih baik nantinya. Mungkin jika mendengarkan pengajian baru seperti teori-teori saja, tetapi saya dan Prof Bambang sudah merasakan atau membuktikan hal tersebut benar selama mengabdi 50 tahun ini,” ujar Prof. Wani.
Turut membidangi lahirnya kampus UNITRI Malang, Prof. Wani menegaskan bahwa para pendiri sejak awal ingin mendirikan kampus yang dapat mendidik mahasiswa dengan biaya pendidikan yang terjangkau.
“Sampai saat ini mungkin baru 20 persen keinginan-keinginan kita itu tercapai meskipun sudah banyak mahasiswa kita yang kita berikan beasiswa dan hanya membayar SPP-nya saja selama satu semester. Meskipun kita sudah memberikan beasiswa itu kepada 50 persen dari jumlah mahasiswa aktif kita saat ini, namun saya juga berharap kampus bisa memberikan uang untuk warga masyarakat dapat menempuh pendidikan di kampus UNITRI ini kelak,” pungkas Prof. Dr. Ir. Wani Hadi Utomo.
Senada dengan Prof. Wani, Prof. Dr. Ir.. Bambang Guritno juga mengaminkan pernyataan dari rekan sejawatnya tersebut.
Menurut mantan Rektor Universitas Brawijaya ini, menegaskan bahwa tidak benar bahwa menempuh pendidikan itu haruslah mahal.
“Jika saya sebagai PNS maka saya ada di bawah pemerintah tetapi di UNITRI ini kan swasta tentunya perjuangannya lain di mana dana semuanya harus mandiri, dari pemerintah juga ada tetapi tidak banyak lebih pada upaya sendiri untuk memenuhi kebutuhan,” ungkap Prof. Bambang.
Prof Bambang lebih lanjut menjelaskan dirinya memiliki pengalaman bahwa pendidikan tidak sangat tergantung pada dana yang terbukti dengan uang kuliah yang tidak besar tapi dirinya mampu membangun berbagai fasilitas yang layak di UNITRI Malang ini.
“UNITRI Malang memiliki fasilitas laboratorium lapangan yang luasnya mencapai delapan hektar di Wagir, kemudian di kampus dua ini ada dua hektar juga selain kita tentunya memiliki kampus utama. Hal ini berarti bahwa pendidikan tidak harus mahal. Meskipun tidak mahal, pendidikan tidak ada kaitan dengan kualitas karena dengan dengan uang yang tidak banyak itu dapat juga mencapai akreditasi program studi yang unggul, sangat baik dan ada yang baik,” pungkas Prof. Dr. Ir. Bambang Guritno.
Pengabdian 50 tahun kedua tokoh pendidikan dengan mendirikan kampus UNITRI Malang untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang terakreditasi dengan biaya yang terjangkau kini telah mulai terwujud. 50 persen mahasiswa aktif UNITRI Malang mendapatkan subsidi dari pihak kampus berupa beasiswa pembebasan ataupun keringanan pembayaran UKT (Uang Kuliah Tunggal), sehingga hanya membayar SPP saja.
Selain dihadiri oleh civitas akademika Universitas Tribhuwana Tunggadewi, gelaran Tribute to Prof. Wani Hadi Utomo dan Prof. Bambang Guritno juga dihadiri oleh mantan mahasiswa ataupun bimbingan keduanya. Selain itu tokoh pendidikan dari berbagai perguruan tinggi baik dalam ataupun luar negeri juga turut menghadiri mengingat kegiatan tersebut dilaksanakan bersamaan dengan pembukaan seminar internasional tentang biochar. (A.Y)
- Penulis: Agus Yuwono




Saat ini belum ada komentar