Kota Malang – Sebagai hasil rekomendasi Kongres Ikatan Sarjana Perternakan Indonesia (ISPI) sebelumnya, Kongres ISPI ke XII kali ini dilaksanakan di Universitas Brawijaya (UB) sejak siang hari ini, Kamis (06/12).

Sebelum membuka Seminar Nasional dan Kongres ISPI ke XII, Rektor Universitas Brawijaya (UB) Nuhfil Hanani menyatakan tantangan dan peluang bagi sarjana peternakan di era yang akan datang akan semakin besar sehingga dirinya berharap ISPI mampu memenuhi tantangan dan peluang yang ada nantinya.

“Indonesia akan mengalami bonus demografi dimana kebutuhan akan pangan khususnya ternak tentunya akan jauh lebih banyak dibutuhkan. Oleh karena itu, saya berharap akan ada rekomendasi-rekomendasi yang dihasilkan dari Kongres ISPI ke XII ini untuk disampaikan ke Pemerintah atau pihak terkait untuk menjadi solusi permasalahan bangsa ini,” ujar Rektor UB, Nuhfil Hanani.

https://m.youtube.com/watch?v=HA8i0hQJ6Yc

Ditemui usai pembukaan, Ketua Umum ISPI yakni Ali Agus menyatakan bahwa Kongres ISPI ke XII akan membahas tentang langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian pangan secara nasional.

“Masalah pangan ini krusial, karena jika tidak kuat dalam ketahanan pangan maka bisa berdampak buruk pada kualitas hidup generasi penerus bangsa, misalkan gizi buruk karena kurang asupan protein hewani atau pertumbuhan tidak maksimal dan mudah terkena penyakit,” ujar Ali Agus.

Kebutuhan pangan nasional hingga saat ini diakui oleh Ali Agus bahwa masih belum mampu dipenuhi 100% dimana hal tersebut juga menjadi salah satu materi pembahasan Kongres ISPI XII untuk mampu menuju ke Kemandirian Pangan secara nasional.

“Misalkan saja hasil peternakan daging sapi di Indonesia ternyata hanya mampu memenuhi 70% kebutuhan pangan nasional, sehingga kemandirian pangan menjadi kebutuhan yang mutlak harus diwujudkan khususnya oleh para Sarjana Peternakan Indonesia ini. Potensi di berbagai daerah di Indonesia sangatlah besar, tetapi banyak juga yang belum tergarap secara optimal,” ujar pria yang menjabat sebagai Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada (UGM) ini.

Revolusi Industri 4.0 juga tidak lepas dari pembahasan Kongres ISPI XII, dimana para peternak dan pelaku peternakan diharapkan bisa memanfaatkan teknologi untuk mengoptimalkan kualitas hasil produksi peternakan.

“Sudah mulai banyak yang menggunakan teknologi untuk mendukung kerja, kinerja dan kualitas hasil peternakan dimana revolusi industri 4.0 ini juga harus dimanfaatkan dalam dunia peternakan di Indonesia,” pungkas Ali Agus. (A.Y)