Tingkatkan harapan hidup penderita saat terjadi henti jantung mendadak karena mampu memberikan pertolongan pertama secara otomatis.

ADADIMALANG – Menyadari tingginya jumlah masyarakat di Indonesia yang mengidap penyakit jantung koroner dan meninggal karena terjadinya henti jantung, mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil menciptakan kaos khusus para pengidap penyakit jantung.

“Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian tertinggi akibat henti jantung mendadak. Kejadian tersebut berlangsung singkat dan tidak terduga serta dengan gejala yang tidak spesifik membuat henti jantung gagal dikenali dan terlambat diberikan pertolongan sehingga menurunkan tingkat harapan hidup. Oleh karena itu diperlukan teknologi solutif dan inovatif yang dapat memonitor fungsi jantung secara kontinyu, melakukan deteksi jantung serta memberikan intervensi defibrilasi tepat waktu untuk menyelamatkan nyawa penderita,” ungkap Rizky Chandra, salah satu anggota tim Si-Sca.

Sebagai jawaban atas kondisi yang sering terjadi tersebut, tim mahasiswa dari Universitas Brawijaya menciptakan karya inovasi yang diberi nama System Integrited for Sudden Cardiac Arrest (Si-Sca) yang merupakan teknologi solutif dan inovatif yang dapat memonitor fungsi jantung secara kontinyu dan melakukan deteksi dini henti jantung mendadak (Sudden Cardiac Arrest) sehingga memberikan intervensi berupa pengiriman energi defibrilasi secara tepat waktu untuk menyelamatkan nyawa.

“Si-Sca ini diwujudkan dalam bentuk kaos dimana ketiga fungsi tersebut saling terhubung dengan smartphone dokter melalui Internet of Things (IoT). Pada praktiknya, Si-Sca ini menggunakan teknik Pointcare Plot of RR-Interval Difference (PORRID) yang dinilai memiliki akurasi, spesifikasi dan sensitifitas yang tinggi (>90%) dalam mendeteksi gejala henti jantung mendadak,” ungkap Rizky Chandra.

Menurut Rizky, dalam segi kenyamanan dan keamanan bahan kaos pada Si-Sca terbuat dari bahan katun yang lembut dan komponen elektrik Si-Sca dilindungi oleh waterproof case serta memiliki emergency button yang berperan sebagai keamanan apabila terjadi kesalahan deteksi.

“Saat ini inovasi kami masih dalam tahap prototyping yang didanai oleh Kemendikbud ristek dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2021 ini. Nantinya target penerapan alat Kami adalah para penderita jantung koroner yang merupakan penyebab kematian tertinggi akibat henti jantung mendadak,” harap Rizky.

Rizky mengakui inovasi serupa telah muncul sebelumnya, namun rata-rata masih bergantung pada tindakan yang harus dilakukan oleh si penderita itu sendiri. Sementara Si-Sca hadir teman fungsi otomatisasi pemberian tindakan pertolongan awal yang dapat meningkatkan harapan hidup pasien saat terjadi henti jantung mendadak.

Karya dari tim mahasiswa UB yang beranggotakan Rizky Chandra Maulana (Elektro 2018), Abdul Mudjib Sulaiman Wahid (Mesin 2018), Aiman Muhamad (Elektro 2019), Anita Dominique (Fakultas Kedokteran 2018) dan Muhammad Farras (FILKOM 2019) ini juga berhasil meraih medali emas dalam ajang World Science Environment and Engineering Competition (WSEEC) yang dilaksanakan tanggal 17 hingga 20 Juni 2021 lalu.

Tingginya value dari tim di bawah bimbingan Ir. Nurussa’adah, M.T. membuat Si-Sca juga mendapatkan special award dari Malaysia Innovation Invention and Creativity Association (MIICA).

“Rencananya kami juga akan menambahkan artifisial intelligence dalam sistem kami sehingga dapat menambah akurasi pendeteksian henti jantung mendadak,” pungkas Risky Chandra. (A.Y)