Mahasiswa UB Kembali Raih Medali Emas Kompetisi Internasional

Ciptakan SOHIN, alat portable yang dapat menghitung benih ikan secara cepat, tepat, efektif dan efisien.

ADADIMALANG – Dengan memanfaatkan sensor optik, motion dan segmentation, lima orang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) berhasil membuat piranti yang diberi nama SOHIN untuk menghitung benih ikan secara cepat, tepat, efektif, efisien. Alat penghitung benih ikan portabel ini mengadaptasi Artificial Intelegence berbasis computer vision dengan menggunakan sensor optic, motion dan segmentation.

“Cara kerjanya dengan cara operator memasukkan benih Ikan Bandeng atau Nener beserta air ke dalam SOHIN dimana Nener tersebut akan melewati jalur inlet yang terbagi menjadi tiga kolom. Ketika nener melewati kamera, maka sensor optik akan menangkap gambar objek yang melewatinya. Data visual tersebut kemudian dirubah menjadi data numerikal melalui serangkaian algoritma pemrograman,” jelas salah satu anggota tim SOHIN, Muhammad Lutfi Ardiansyah dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan.

Menurut Lutfi, data numerik yang telah diproses ditampilkan pada LCD dimana setiap objek yang dihitung akan disimpan datanya dan apabila jumlah objek yang diinginkan sudah mencapai target maka secara otomatis program akan memerintahkan alat untuk menghentikan proses dan alat akan tertutup.

“Keunggulan SOHIN adalah meminimalisir jumlah tenaga manusia, mempersingkat waktu dan meningkatkan ketelitian kerja perhitungan benih ikan,” jelas Lutfi.

Lutfi berharap SOHIN dapat diproduksi secara massal sehingga  bermanfaat bagi pembudidaya benih ikan di Indonesia.

SOHIN adalah piranti penghitung benih ikan buatan lima mahasiswa FPIK dan FMIPA Universitas Brawijaya yaitu Muhammad Lutfi Ardiansyah, Randy Cassandra Risnandar, Yasmin Azizah, Adynsyah Nanda Putra dan  Akmal Adnan Attamami dibawah bimbingan dosen FPIK UB Eko Sulkhani Yulianto S.Pi, M.Si.

SOHIN berhasil meraih penghargaan Gold Medal & Special Award Malaysia Innovation Invention and Creativity dalam ajang International Invention Competition For Young Moslem Scientists (IICYMS).

BACA JUGA :  Sejumlah Guru Harapkan Pemerintah Kaji Ulang Kebijakan mendikbud tentang Sekolah Full Day

IICYMS merupakan suatu platform pembelajaran yang dikembangkan oleh Indonesian Young Scientist Association (IYSA) untuk mengembangkan talenta-talenta muda agar menjadi penemu yang produktif, kreatif dan inovatif.

Kegiatan ini diikuti oleh 201 tim dari 17 negara seperti Italia, Mesir, Indonesia, Malaysia, Turki, Jerman, Palestina, Qatar dan India. (A.Y)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini