Berbagai layanan Pemkot Malang kepada masyarakat mulai bergeser ke arah digital.
ADADIMALANG – Pembukaan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) tahun 2022 pagi tadi disaksikan pula secara virtual di Hotel Shantika Malang oleh jajaran Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang dan tamu undangan dari Malang Raya.
Salah satu undangan yang hadir adalah Wakil Wali Kota Malang, Ir. H Sofyan Edi Jarwoko yang menyampaikan apresiasi kepada Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Malang atas inisiasinya untuk selalu bersinergi bersama Pemerintah kota Malang untuk terus berakselearasi dalam hal digitalasi.
“Kegiatan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) tahun 2022 ini saya harapkan dapat menjadi stimulus bagi para pelaku keuangan digital dalam rangka Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) termasuk pemulihan ekonomi di daerah dan pengembangan ekonomi digital di Malang Raya demi kesejahteraan masyarakat Malang Raya,” ungkap Sofyan Edi Jarwoko.
Menurut pria yang akrab disapa Bung Edi ini, kegiatan FEKDI 2022 tersebut merupakan gerakan sinergi nasional berkaitan dengan ekonomi dan keuangan digital untuk Indonesia untuk membangun komitmen bersama.
“Oleh karena itu saya kira gerakan ini perlu didukung bersama demi kepentingan dan kemajuan yang lebih besar lagi ke depannya,” ujar Bung Edi.
Saat ditanya penggunaan teknologi digital di bidang keuangan dan pelayanan bagi masyarakat di kota Malang, Bung Edi menegaskan bahwa di kota Malang beberapa Organisasi Perangkat Daerah (OPD) telah bergerak untuk menggunakan sistem pembayaran dengan digital termasuk aktivitas pelayanan juga telah menggunakan teknologi digital.
“Saya contohkan parkir yang di kawasan aset Pemerintah Kota Malang yakni di Stadion Gajayana juga telah menggunakan teknologi digital dalam bentuk E-Parking dan itu kelihatan betul betapa efektif efisiennya, mengurangi risiko kehilangan dan kebocoran, tepat sasaran dan cepat. Jika itu dilakukan dibanyak bidang tentunya akan sangat bagus terhadap kualitas layanan kepada masyarakat dan juga pemulihan ekonomi ,” ungkapnya.
Diakui masih ada OPD yang masih belum bergerak optimal terkait pemanfaatan teknologi digital dalam pelaksanaan pelayanan kepada masyarakat sesuai tugas dan fungsinya, namun Sofyan Edi menegaskan semuanya tengah bergerak secara bertahap untuk mulai bergeser dari sistem manual ke digital.
“Perlu diketahui jika masyarakat Kota Malang ini ternyata jauh lebih siap untuk sistem perdagangan digital, dimana saat pandemi banyak pengetatan sehingga perdagangan secara offline tersendat dan terpengaruh. Namun tingkat transaksi perdagangan online baik melalui marketplace atau yang lainnya justru menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan,” ujar Bung Edi.
Meski diakui telah siap, namun Edi tidak menampik jika masih ada yang belum siap atau tahu tentang model perdagangan digital karena berbagai faktor penyebab.
“Yang tidak kalah pentingnya adalah unsur Sumber Daya Manusia (SDM) baik itu penjual ataupun pembelinya, jaringan dan teknologi juga harus siap dalam penerapan sistem perdagangan digital ini. jangan sampai teknologinya sudah ada, namun penjual atau pembelinya justru belum tahu cara menggunakannya,” ungkap Wakil Wali Kota Malang.
Penggunaan QRIS sebagai alat pembayaran digital yang dikeluarkan dari Bank Indonesia saat ini telah diterapkan di tiga pasar tradisional Kota Malang. Melihat perkembangan penggunaannya sejak dilaunching beberapa waktu yang lalu, Sofyan Edi Jarwoko memastikan jumlah pasar yang akan menyusul Pasar Oro-Oro Dowo dalam penggunaan sistem pembayaran digital tersebut akan bertambah.
“Yang sudah menggunakan QRIS itu di pasar Oro-Oro Dowo nantinya akan terus bertahap. Kita ada 26 pasar memang tiga yang sudah berjalan tapi secara bertahap akan diusahakan pasar-pasar yang lainnya. Semakin bagus kok penataan pasarnya dengan penggunaan pembayaran digital ini,” pungkas Sofyan Edi Jarwoko. (A.Y)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.