Perwakilan 50 Kampus Swasta Di Jatim Ikuti Workshop Empat Anti Di STIE Malangkuçeçwara

Home | Berita | Perwakilan 50 Kampus Swasta Di Jatim Ikuti Workshop Empat Anti Di STIE Malangkuçeçwara
Perwakilan 50 Kampus Swasta Di Jatim Ikuti Workshop Empat Anti Di STIE Malangkuçeçwara

Dilaksanakan oleh LLDIKTI Wilayah VII Jatim berkolaborasi dengan kamous STIE Malangkuçeçwara.

ADADIMALANG.COM | Kampus ABM – Berkolaborasi dengan STIE Malangkuçeçwara (ABM), Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wikyah VII Jawa Timur menggelar kegiatan workshop Implementasi Kebijakan AntiIntoleransi, Anti-Kekerasan Seksual, AntiPerundungan dan AntiKorupsi hari ini, Selasa (05/09/2023).

Dalam kegiatan yang digelar di gedung H kampus ABM Malang ini dihadiri langsung oleh Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jatim Prof. Dyah Sawitri, SE., MM., dan juga Ketua STIE Malangkuçeçwara Drs. Bunyamin, MM., PhD. Selain itu perwakilan dari 50 perguruan tinggi swasta di Jatim yang masuk wilayah kerja LLDIKTI VII juga nampak mengikuti kegiatan tersebut.

Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur, Prof. Dyah Sawitri, SE., MM., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan workshop implementasi kebijakan empat Anti sesuai Permendikbud Ristek nomor 30 tahun 2021 di kampus STIE Malangkuçeçwara kali ini.

Ketua STIE Malangkuçeçwara Drs Bunyamin, MM., PhD., Menyerahkan cinderamata kepada Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jatim Prof. Dyah Sawitri, SE., MM.,
Ketua STIE Malangkuçeçwara Drs Bunyamin, MM., PhD., Menyerahkan cinderamata kepada Kepala LLDIKTI Wilayah VII Jatim Prof. Dyah Sawitri, SE., MM., (Foto : Agus Yuwono)

“Implementasi kebijakan ini juga diharapkan menjadi wahana penanaman lima program gerakan nasional revolusi mental yaitu Indonesia melayani, Indonesia bersih, Indonesia tertib, Indonesia mandiri, dan Indonesia bersatu. Dengan kata lain perguruan Tinggi memberikan bekal awal agar mahasiswa kelak akan menjadi alumni perguruan tinggi yang memiliki kedalaman ilmu, keluhuran akhlak, cinta tanah air, dan juga berdaya saing global,” ungkap Dyah Sawitri.

Dyah mengaku bersyukur karena saat ini jumlah kampus swasta di wilayah LLDIKTI VII Jatim yang telah paham dan menerapkan kebijakan empat Anti jumlahnya semakin banyak.

“Berdasarkan data pada bulan Desember 2022 prosentase implementasi empat anti di LLDIKTI Wilayah VII Jawa Timur meningkat luar biasa, karena dari 325 perguruan tinggi yang ada terdapat 210 kampus yang telah mengimplementasikan empat Anti. Yang telah menerapkan AntiKorupsi sebanyak 64,3 persen, untuk Anti Intoleransi itu ada 201 perguruan tinggi sekitar 62 persen, sedangkan untuk perundungan itu ada 204 perguruan tinggi sekitar 62,9 persen dan Anti-Kekerasan Seksual itu ada 202 kampus sekitar 62,3 persen,” ujar Dyah Sawitri.

Dengan penerapan empat anti tersebut, Dyah Sawitri berharap perguruan tinggi akan semakin meningkatkan pelayanan kepada masyarakat dengan memberikan keamanan dan kenyamanan bagi para mahasiswanya saat menempuh pendidikan. Kita lihat bahwa dengan penerapan empat anti ini betul-betul memanusiakan manusia, jadi manusia itu sangat dihargai dan dihormati haknya dalam melakukan aktivitas pendidikan.

“Itulah keberkahan yang luar biasa sehingga secara psikis para mahasiswa akan terbentuk karakternya sehingga akan menjadi manusia yang menerapkan lima program gerakan nasional revolusi mental yang telah saya jelaskan tadi.

“Para mahasiswa dibentuk karakternya mulai dari menempuh pendidikan sehingga kelak akan menjadi lukusan dengan pola pikir yang positif sehingga akan mampu melakukan perubahan-perubahan dalam pendidikan tinggi. Apa yang dikatakan investasi sebagai modal dasar untuk menyejahterakan masyarakat Indonesia di desa diwujudkan melalui investasi pendidikan karena pendidikan itu adalah aset yang strategis. Pendidikan adalah fondasi kuat untuk membangun bangsa karena pendidikan adalah investasi untuk kesejahteraan masyarakat itu betul-betul bisa diwujudkan melalui hal tersebut,” pungkas Dyah Sawitri.

Sementara itu, Ketua STIE Malangkuçeçwara, Drs. Bunyamin, MM., PhD., berharap kegiatan workshop implementasi tersebut tidak berhenti di tahapan workshop saja tetapi harus terus berlanjut pada tahapan action atau tindakan nyata.

“Oleh karena itu STIE Malangkuçeçwara akan menularkan semangat empat anti ini kepada semua civitas  akademika STIE Malangkuçeçwara dan tentu saja dengan menggunakan sarana dan prasarana yang kita miliki. Tugas saya adalah untuk mewujudkan empat anti ini menjadi satu kegiatan yang riill di kampus STIE Malangkuçeçwara,” ungkap pria yang akrab disapa Beny ini.

Mengakhiri wawancara, Beny berharap kampus-kampus swasta di wilayah LLDIKTI VII Jawa Timur dapat menjadi Pioneer untuk penerapan empat anti ini di Indonesia. (A.Y)

Leave a Reply