ADADIMALANG.COM | Kampus UB – Pengobatan penyakit kanker dengan menggunakan metode kemoterapi acapkali menimbulkan rasa takut bagi pasien yang akan menjalaninya. Mengingat dari penggunaan metode tersebut disebutkan sel sehat yang ada dalam tubuh juga akan ikut mati akibat penggunaan bahan kimia yang disuntikkan dalam pelaksanaan kemoterapi.

Dengan keahliannya di bidang teknik khususnya dalam hal transfer biopanas, Prof. Dr. Slamet Wahyudi, S.T., M.T., berhasil meneliti penggunaan Teknologi Microwave Ablation (TMA) dalam pengobatan penyakit kanker.

“Dengan teknologi microwave ablation ini menggunakan jarum sebagai antena penghantar panas yang akan ditancapkan di kanker tersebut berada. Nantinya akan dialirkan gelombang panas secara bertahap hingga 55 derajat celcius maksimal selama sepuluh menit saja,” ungkap pria yang menjadi Profesor ke 354 Universitas Brawijaya ini.

Dengan metode tersebut, maka suhu panas yang dialirkan melalui antena tersebut akan merusak sel kanker dengan cara penguapan cairan di lokasi kanker.

Profesor dari Universitas Brawjaya (UB) yakni Prof. Dr. Slamet Wahyudi, S.T., M.T., berhasil meneliti penggunaan Teknologi Microwave Ablation (TMA) dalam pengobatan penyakit kanker (Foto : Agus Yuwono)
Profesor dari Universitas Brawjaya (UB) yakni Prof. Dr. Slamet Wahyudi, S.T., M.T., berhasil meneliti penggunaan Teknologi Microwave Ablation (TMA) dalam pengobatan penyakit kanker (Foto : Agus Yuwono)

“Dengan metode ini, maka gelombang panas yang diberikan itu akan terlokalisir sesuai dengan suhu yang diberikan dan durasi waktu gelombang panas itu diberikan. Karena jika lebih dari sepuluh menit dan lebih dari 55 derajat celcius, dikhawatirkan akan merusak area di luar lokasi kanker tersebut berada,” ujar Prof. Slamet Wahyudi.

Dengan penggunaan Teknologi Microwave Ablation (TMA) tersebut dipercaya akan efektif dalam penyembuhan penyakit kanker yang diderita pasein.

“Teknologi ini sebagai pembangkit biopanas yang memungkinkan ablasi jaringan agar lebih mudah diprediksi dan mampu menghasilkan volume ablasi lebih besar dalam jangka waktu yang lebih singkat serta memberikan intensitas energi lebih rendah sehingga kerusakan jaringan dapat dikendalikan, dengan begitu dapat mengurangi kerusakan pada sel-sel sehat di sekitar lokasi kanker berada,” ujar Prof. Slamet.

Ditanya apakah penelitiannya tersebut telah diterapkan kepada pasien penderita kanker, Profesor aktif ke-25 di Fakultas Tehnik Universitas Brawijaya ini menegaskan hal tersebut belum dilaksanakan karena memerlukan izin khusus. Oleh karenanya Prof. Slamet juga akan berkolaborasi dengan dosen atau pakar dari Fakultas Kedokteran UB untuk keberlanjutan hasil penelitiannya.

“Semoga segera dapat dikembangkan dan dapat dipergunakan untuk mengobati penyakit kanker yang banyak diidap oleh masyarakat Indonesia,” pungkas Prof. Slamet Wahyudi. (A.Y)