Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Di tengah tantangan pengelolaan limbah perkotaan, warga RW 8 Perumahan Joyogrand, Kelurahan Merjosari, Kota Malang, meluncurkan sebuah terobosan sosial yang unik dan inspiratif.
Melalui gerakan bertajuk “Sedekah Sampah Jadi Berkah,” mereka tidak hanya berkomitmen menjaga lingkungan semata, tetapi juga mengubah aktivitas memilah sampah menjadi nilai amal dan ibadah.
Inisiatif ini dirancang sebagai upaya fundamental untuk menanamkan kepedulian ekologis yang melekat dalam diri setiap warga, melampaui sekadar kegiatan seremonial atau kompetisi sesaat. Gerakan ini secara cerdas mengintegrasikan tanggung jawab lingkungan dengan peningkatan amal sosial dan solidaritas komunitas.
Ketua RW 8 Merjosari, Wahyu Bawana Nawaksara, menjelaskan bahwa konsep yang diusung ini menekankan bahwa setiap langkah kecil dalam memilah dan mengelola sampah adalah wujud kepekaan sosial terhadap lingkungan sekitar yang akan mendatangkan manfaat berlipat.
Program Sedekah Sampah Jadi Berkah mendorong setiap rumah tangga untuk aktif memilah sampah, khususnya sampah anorganik yang memiliki nilai jual. Sampah terpilah ini kemudian disalurkan melalui mekanisme komunitas yang telah disiapkan.
“Hasil dari penjualan sampah terpilah ini kemudian dikelola oleh komunitas untuk kegiatan sosial, seperti perbaikan fasilitas umum atau dana bantuan bagi warga yang membutuhkan, sekaligus operasional untuk kegiatan lingkungan lainnya. Dengan cara ini akan membuat sampah yang tadinya dianggap masalah kini menjelma menjadi sumber daya untuk amal,” jelas Wahyu Bawaksara.

Demi memastikan kesadaran tersebut terinternalisasi dan menjadi kebiasaan seluruh warga, Joyogrand merancang Program Peduli Lingkungan Tingkatkan Amal (PELITA) yang melibatkan struktur pelaksanaan yang komprehensif di mana seluruh elemen komunitas mulai dari warga, pengurus RT/RW, Karang Taruna, hingga Remaja Masjid diberi peran yang spesifik.
Melalui pendekatan ini, warga Joyogrand berhasil mengintegrasikan dua dimensi penting yakni kelestarian alam dan solidaritas komunitas. Penerapan konsep ini telah mengubah cara pandang warga terhadap limbah, warga diajak untuk merenungi bahwa menjaga kebersihan lingkungan adalah ibadah yang tidak terpisah dari kehidupan sehari-hari.
Gerakan ini terbukti berhasil menumbuhkan semangat gotong royong yang tinggi, di mana kepekaan terhadap kebersihan lingkungan diwujudkan dalam aksi nyata dan bukan hanya sekadar wacana. Aksi kolektif ini adalah wujud komitmen yang berkelanjutan demi menciptakan lingkungan yang lebih bersih, asri, dan penuh keberkahan.
Keberhasilan gerakan “Sedekah Sampah Jadi Berkah” di Joyogrand ini kini menjadi inspirasi positif bagi kawasan perumahan lain. Inisiatif ini membuktikan bahwa solusi terhadap masalah lingkungan dapat ditemukan melalui inovasi sosial yang cerdas dan berbasis nilai.
Dengan membangun budaya yang melihat sampah sebagai berkah dan peduli lingkungan sebagai amal, Perumahan Joyogrand telah menetapkan standar baru dalam pengelolaan lingkungan berbasis komunitas di Kota Malang. (Red)
