Kota Malang | ADADIMALANG.COM – Kebijakan pemerintah mendirikan Koperasi Merah Putih (KMP) disambut hangat oleh sivitas akademika Universitas Brawijaya (UB). Kampus ternama di Kota Malang ini bahkan ingin berkolaborasi aktif dengan program tersebut, menjadikannya ‘laboratorium hidup’ untuk menciptakan kemandirian warga desa.

Pernyataan ini muncul saat Menteri Koperasi Republik Indonesia, Dr. Ferry Juliantono, S.E. Ak., M.Si., hadir di gedung Widyaloka UB dalam rangka Rapat Senat Dies Natalis ke-64 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) pagi hari tadi, Rabu (29/10/2025).

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., menegaskan bahwa UB tidak ingin menjadi ‘kampus Menara Gading’ yang terpisah dari realitas masyarakat. Oleh karena itu, kebijakan pendirian Koperasi Merah Putih di seluruh Indonesia akan didukung sepenuhnya oleh UB.

Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., saat menyampaikan sambutan di momen Rapat Senat Dies Natalis ke-64 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (Foto : Agus Yuwono)
Rektor UB, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., saat menyampaikan sambutan di momen Rapat Senat Dies Natalis ke-64 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (Foto : Agus Yuwono)

Prof. Widodo melihat Koperasi Merah Putih (KMM) sebagai mitra strategis yang dapat dikolaborasikan dengan sumber daya manusia (SDM) unggul milik UB, mulai dari para Doktor hingga Mahasiswa.

“Selain memiliki program Doktor Mengabdi, Universitas Brawijaya juga memiliki kegiatan tahunan berupa Mahasiswa Membangun Desa (MMD) yang juga berusaha memecahkan berbagai permasalahan yang dihadapi warga desa. Setidaknya lebih dari 15 ribu mahasisa UB setiap tahun turun ke desa-desa,” ungkap Prof. Widodo dalam sambutannya.

Menurut Rektor UB, perpaduan KMP dengan SDM mumpuni dari UB diharapkan menjadi formula terbaik untuk menciptakan kemandirian warga yang berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

“Kami berharap nantinya jika dapat tercipta kolaborasi tersebut, maka akan kami jadikan living laboratorium yang dapat menjadi bahan pembelajaran bagi banyak pihak,” tambahnya.

Dekan FEB UB Abdul Ghofar, SE., M.Si., M.ACC., DBA., Ak., CA., saat menyampaikan sambutan dalam Rapat Senat Dies Natalis ke-64 FEB UB di Gedung Widyaloka UB (Foto : Agus Yuwono)
Dekan FEB UB Abdul Ghofar, SE., M.Si., M.ACC., DBA., Ak., CA., saat menyampaikan sambutan dalam Rapat Senat Dies Natalis ke-64 FEB UB di Gedung Widyaloka UB (Foto : Agus Yuwono)

Dukungan nyata juga datang dari internal kampus. Dekan FEB UB, Abdul Ghofar, S.E., M.Si., M.Acc., DBA., Ak., CA., mengumumkan rencana untuk mengembalikan mata kuliah koperasi sebagai mata kuliah wajib di fakultasnya.

“Jadi seiring perkembangan akhirnya kami saat itu lebih fokus pada bidang korporasi sehingga mata kuliah koperasi menjadi mata kuliah pilihan. Namun ke depan, kami akan mengembalikan lagi mata kuliah koperasi tersebut menjadi mata kuliah wajib di FEB UB,” tukas Abdul Ghofar.

Sementara itu, Menteri Koperasi Dr. Ferry Juliantono dalam orasi ilmiahnya yang bertajuk ‘Koperasi Sebagai Penggerak Swasembada Pangan dan Energi’ menyampaikan bahwa Koperasi Merah Putih (KMP) adalah wujud nyata kehadiran negara dalam menjaga perekonomian bangsa.

“Presiden ingin negara kembali hadir agar perekonomian bangsa ini tidak dilepas begitu saja mengikuti mekanisme pasar begitu saja,” ungkap Dr. Ferry Juliantono.

Menteri Koperasi RI, Dr. Ferry Juliantono, S.E. Ak., M.Si., saat menyampaikan orasi ilmiahnya di momen Rapat Senat Dies Natalis ke-64 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (Foto : Agus Yuwono)
Menteri Koperasi RI, Dr. Ferry Juliantono, S.E. Ak., M.Si., saat menyampaikan orasi ilmiahnya di momen Rapat Senat Dies Natalis ke-64 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (Foto : Agus Yuwono)

Menteri Koperasi RI ini juga menekankan peran strategis koperasi dalam membangun kemandirian ekonomi, terutama di tingkat masyarakat desa. Untuk mendukung keberadaan KMM, pembangunan infrastruktur pendukung terus digenjot. Inventarisasi kebutuhan operasional di setiap wilayah dilakukan setiap hari.

“Lebih dari 1.000 lokasi telah memulai tahap groundbreaking, termasuk pembangunan gudang dan sarana penunjang lain agar koperasi desa dapat semakin modern,” tutupnya. (A.Y)