Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Kenaikan harga sejumlah komoditas bahan pangan pokok menjelang hari besar keagamaan menjadi perhatian serius pemerintah daerah. Merespons lonjakan signifikan pada komoditas hortikultura, Pemerintah Kota Malang bersiap mengoperasikan kembali jaringan Warung Tekan Inflasi sebagai instrumen stabilitas harga di pasar tradisional.

Langkah taktis ini diambil setelah Wali Kota Malang, Dr. Ir. Wahyu Hidayat, MM., melakukan peninjauan lapangan secara mendalam ke sejumlah pasar rakyat. Dari hasil pemantauan di Pasar Oro-oro Dowo, harga jual cabai di tingkat pedagang dilaporkan telah menembus angka Rp85 ribu per kilogram. Sementara di Pasar Tawangmangu dan Pasar Bunulrejo, harga berada di kisaran Rp70 ribu per kilogram, di mana angka-angka tersebut telah melampaui Harga Acuan Pembelian yang ditetapkan sebesar Rp57 ribu.

“Tadi sudah kami cek, yang masih naik memang komoditas cabai. Saya sudah meminta Diskopindag untuk membuka Warung Tekan Inflasi untuk cabai ini. Karena harganya sudah di atas HAP. HAP-nya Rp 57 ribu,” jelas Wali Kota Wahyu Hidayat,Senin (25/5/2026).

Sebagai titik awal intervensi pasar, fasilitas pengendalian inflasi ini direncanakan hadir di dua lokasi strategis, yaitu Pasar Blimbing dan Pasar Dinoyo. Saat ini, jajaran dinas terkait tengah merampungkan seluruh proses pengajuan teknis operasionalnya.

“Ini sedang kami proses agar bisa menekan harga cabai dan kenaikannya tidak semakin signifikan,” tambahnya.

Berdasarkan analisis di lapangan, fluktuasi harga yang terjadi saat ini merupakan dampak langsung dari keterbatasan pasokan. Faktor dinamika cuaca di wilayah sentra produksi serta belum masukknya siklus panen raya di sejumlah daerah penyangga disinyalir menjadi pemicu utama menipisnya stok di pedagang.

“Memang tergantung masa panen dan cuaca. Saat ini kondisi kita kekurangan stok karena belum banyak yang panen,” urai Wahyu Hidayat.

Guna mengatasi hambatan suplai tersebut, Pemerintah Kota Malang menempuh jalur Kerja sama Antar Daerah untuk mendatangkan pasokan tambahan langsung dari wilayah produsen terdekat, seperti Kabupaten Malang dan Kabupaten Lumajang. Komoditas hasil KAD inilah yang nantinya akan didistribusikan melalui jaringan warung pengendali inflasi dengan harga yang lebih terjangkau oleh masyarakat.

“Kami akan kerja sama antar daerah untuk mencari cabai dari luar Kota Malang yang nantinya dijual di WTI,” ucapnya.

Mengenai momentum pelaksanaan, pemerintah daerah menargetkan program intervensi ini dapat berjalan bertepatan dengan momen perayaan Idul Adha atau sehari setelahnya. Operasional program ini memanfaatkan pos anggaran Belanja Tidak Terduga yang saat ini sedang dalam fase penyesuaian dokumen administrasi sesuai dengan regulasi terbaru dari Kementerian Dalam Negeri.

“Proses BTT paling tidak dua hari, karena sekarang harus masuk dulu ke dokumen pelaksanaan anggaran perangkat daerah. Kemungkinan saat Iduladha atau sehari setelahnya supaya bisa menekan harga,” pungkas Wahyu Hidayat. (Red)