Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Kecamatan Lowokwaru dikenal sebagai wilayah dengan konsentrasi perguruan tinggi terbanyak di Kota Malang. Kondisi demografis ini membuat komposisi penduduknya didominasi oleh kelompok usia produktif dan generasi muda dari berbagai penjuru tanah air bahkan mancanegara yang menetap di rumah kos maupun pemondokan mahasiswa.
Menyadari karakteristik unik wilayah pemilihannya, Wakil Ketua DPRD Kota Malang Trio Agus Purwono menggelar agenda penyerahan aspirasi masyarakat dengan konsep yang berbeda. Politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kota Malang tersebut secara khusus mengundang sekitar 100 orang perwakilan mahasiswa dan pemuda untuk berdialog langsung dalam forum reses resmi malam hari tadi,Senin (06/07/2026).
”Yang jelas kita melihat anak muda ini juga merupakan stakeholder yang jumlahnya juga cukup banyak ada di Malang sebagai kota pendidikan, sehingga kita juga harus menyerap aspirasi dari mereka karena banyak hal juga jadi menjadi pembahasan mereka yang memang patut juga untuk kita dengarkan dan kita perjuangkan di DPRD,” kata Trio Agus Purwono menjelaskan alasan di balik konsep reses pemuda tersebut.
Dalam kesempatan dialog itu, Trio Agus memanfaatkan ruang pertemuan untuk mengedukasi serta memaparkan sederet isu faktual yang tengah berkembang di Kota Malang dan berkaitan erat dengan keseharian dunia mahasiswa.
”Jadi yang pertama disampaikan mereka adalah berkaitan dengan semakin maraknya peredaran miras dimana mereka memahami dan menyadari bahwasannya itu terjadi pada kawan-kawan mereka sendiri. Melihat begitu bebasnya akses terhadap tempat-tempat hiburan yang itu juga membuat kekhawatiran mereka mahasiswa dapat terpengaruh untuk datang ke tempat-tempat hiburan malam tersebut,” ujar Trio Agus Purwono.
Terkait kondisi tersebut, perwakilan mahasiswa mendesak adanya langkah pengawasan yang lebih ketat dari legislatif. Mereka berharap DPRD Kota Malang mampu menelurkan regulasi yang tegas guna mengendalikan peredaran minuman beralkohol serta memperketat izin operasional hiburan malam.
”Yang kedua masukan dari para mahasiswa adalah terkait dengan sarana-perasarana infrastruktur untuk menurut kenyamanan kota seperti masalah transportasi umum dimana kota Malang dianggap masih sangat kurang kalau dibandingkan kota seperti DKI Jakarta mengingat banyak mahasiswa berasal dari sana yang sudah terbiasa dengan kemudahan transportasi itu. Termasuk masalah fasilitas pedestrian untuk pejalan kaki maupun jalur untuk para pesepeda karena menurut mereka kota Malang ini masih belum ramah terhadap para pejalan kaki,” ucap Trio Agus Purwono merinci poin tuntutan pemuda.

Selain masalah sarana transportasi massal dan pedestrian, semrawutnya tata kelola parkir serta kemunculan titik parkir liar juga dikeluhkan oleh para mahasiswa luar daerah karena mengurangi kenyamanan mereka selama menempuh studi di Malang. Isu ini melahirkan desakan agar instansi terkait menerapkan aturan penertiban yang nyata di lapangan.
”Yang terakhir ada juga mahasiswa yang keberatan dengan adanya fenomena budaya sound horeg yang terkadang membuat para mahasiswa itu merasa terganggu. Kita juga memberikan penyadaran dan pemahaman bahwa itu adalah budaya yang berbeda dengan daerah asal mereka, meskipun kita tidak memungkiri bisa jadi adanya kegiatan sebut memang kadang mengganggu kenyamanan orang lain ya karena suaranya yang keras dan durasi waktu yang panjang dan kadang sampai malam hari. Tapi kita buat kegiatan reses ini menjadi diskusi dan membangun kesepemahaman memang ini termasuk bagian dari budaya yang ada di Jawa Timur ya, walaupun masukannya juga kita terima,” tutur Trio Agus Purwono. (A.Y)
