Bekerjasama dengan korban PHK lainnya untuk dapat survive bersama di masa pandemi Covid-19.
ADADIMALANG – Pandemi Covid-19 selain menghantam kehidupan masyarakat di tingkat bawah, juga berpengaruh besar pada dunia usaha. Tidak hanya usaha level kecil, level menengah hingga besarpun juga merasakan dampak dari Virus Corona yang telah menjadi pandemi di seluruh dunia ini.
Dampak dari pandemi Covid-19 tersebut membuat pelbagai usaha terus berusaha berinovsi agar tetap mampu bertahan (survive) di masa pandemi yang belum ketahuan kapan berakhirnya ini. Ada yang berhasil, namun tidak sedikit pula yang akhirnya terpaksa harus mengurangi produksi hingga merumahkan karyawan mereka baik sementara ataupun seterusnya. Bahkan tidak sedikit pula yang harus gulung tikar dan menutup usaha mereka.
Salah satu korban dari pandemi Covid-19 tersebut adalah Mira Suhartanti yang harus menelan pil pahit dengan menerima keputusan manajemen hotel tempatnya bekerja yang terpaksa harus merumahkannya.
“Aku mengawali karir di dunia perhotelan sejak tahun 2001 di sebuah hotel boutique bintang 5 di Malang dan terakhir bekerja di sebuah hotel bintang 3 di kota Malang sebagai Executive Secretary. Sebagai secretary membuat banyak waktu dan pikiran lebih terluang di tempat kerja dan rumah menjadi tempat indah untuk istirahat setelah seharian beraktivitas di hotel hingga akhirnya pandemi Covid-19 itu datang di awal tahun 2020 ini,” ungkap Mira Suhartanti.
Datangnya pandemi Covid-19 menurut Mira sangat memukul dunia pariwisata dimana mulai bulan Februari 2020 penurunan okupansi sudah mulai terasa. Lalu Indonesia menetapkan Covid-19 sebagai pandemi dan banyak penerapa Lockdown hingga travel warning dan lain sebagainya.
“Dampak Virus Corona (Covid-19) terhadap sektor pariwisata di kota Malang pun begitu ganas dan cepat, sehingga pada bulan April 2020 manajemen sepakat untuk menutup sementara hotel karena tingkat okupansi yang sangat rendah dan sebagian besar karyawanpun di rumahkan untuk waktu yang belum bisa ditentukan,” ujar perempuan berambut sebahu ini.
Keputusan dirumahkan tersebut sangat mengejutkan Mira dan beberapa karyawan hotel yang mau tidak mau langsung berubah status menjad pengangguran mendadak.
“Kaget dan tidak percaya, bingung harus gimana, sedih semua jadi satu dan seperti berputar-putar dikepala, tapi ada saatnya usai meratapi nasib dan putar otak. Dengan kebiasaan bekerja dan beraktivitas membuat aku harus cari jalan lain untuk survive dari pandemi ini. Harus melakukan sesuatu untuk tetap ada pendapatan pastinya,” ungkap Mira.
Tepat saat peringatan hari Jadi kota Malang di tanggal 1 April 2020, Mira memutuskan untuk memulai usaha berjualan telur dengan alasan tingkat permintaan telur cukup tinggi saat pandemi karena telur mengandung protein tinggi dan penghasil komponen bioaktif yang dapat meningkatkan imun tubuh.
“Kuning telur juga mengandung lemak HDL (high density lipoprotein) atau dikenal sebagai lemak baik dengan kandungan Omega 3, Omega 6 & Omega 9 yang dapat memperbaiki respon imun. Karena itulah aku yakin pilihan berjualan telur merupakan pilihan yang tepat,” ungkap perempuan ramah ini.
Mira memulai usahanya dengan jumlah dagangan hanya 10 kilogram telur yang dijual eceran saat itu. Momentum menjelang bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri juga cukup mendukung usaha Mira di awal-awal berjualan.
“Ternyata tidak mudah ya mencari pelanggan. Apalagi banyak outlet yang langsung menolak saat ditawari telur dengan alasan sudah memiliki penyuplai telur langganan mereka,” ungkap Mira.
Seiring dengan terus berjualan, Mira juga mulai merambah seluk beluk dunia telur. Mulai belajar tentang ayam, kandang, telur hingga kualitas telur yang membuatnya merasakan dunia baru setelah selama ini menggeluti dunia perhotelan.
Meskipun promosi usahanya hanya melalui aplikasi pesan Whatssapp namun usaha yang dilakukan Mira mampu terus bertahan. Apalagi sesame mantan karyawan yang menjadi korban PHK juga saling memberikan dukungan dengan mempromosikan dagangan Mira. Begitu juga sebaliknya.
Kegigihan memulai usaha berjualan telur mulai menunjukkan hasil. Mira kini telah dapat meningkatkan usahanya menjadi agen telur.
“Kalau dulu awal usaha berjualan telur itu membeli telurnya dari penjual telur keliling tetapi sekarang aku sudah punya rekanan kandang-kandang ayam petelur di daerah Kambingan Tumpang dan Ampeldento. Pelangganku yang semula hanya tetangga di sekitar perumahan tempat tinggalku sekarang sudah banyak restoran, catering, hotel, toko yang sebagian juga adalah teman dan relasi dulu,” ungkap Mira yang sangat menghargai dukungan teman dan relasinya tersebut dalam membuat usahanya bertahan dan berkembang.
Setelah hampir delapan bulan memulai usahanya berjualan telur, Mira mulai merasa mantab dengan usaha barunya. Kini Mira telah menargetkan harus dapat mengembangkan usaha telur ke kota-kota lain selain Malang.
Menurut Mira, di masa pandemi memang harus ekstra jeli untuk dapat melihat peluang pasar dan mendapatkan pelanggan baru termasuk kreatif untuk dapat melahirkan ide usaha apapun, karena tuntutan keadaan akan memaksa ide keren muncul saat kondisinya terdesak.
“Dari semua yang terjadi aku belajar satu hal, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu. Menjadi karyawan bukanlah pilihan yang salah, tetapi menjadi seorang entrepreneur akan lebih memiliki kebanggaan tersendiri,” pungkas Mira Suhartanti. (A.Y)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.