Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Bagaimana jadinya jika kecanggihan teknologi digunakan untuk membasuh luka kehilangan yang paling dalam?
Kondisi inilah yang menjadi napas utama dalam film terbaru berjudul ‘Esok Tanpa Ibu’, sebuah karya kolaborasi internasional yang mempertemukan talenta terbaik dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia ini siap menyapa penonton di bioskop mulai 22 Januari 2026 mendatang.
Kisah berpusat pada Rama alias Cimot, remaja yang diperankan oleh Ali Fikry, yang dunianya runtuh seketika saat sang ibu meninggal mendadak setelah mengalami koma. Rasa kehilangan yang amat sangat diperparah oleh hubungan Cimot yang canggung dengan sang Bapak yang diperankan oleh Ringgo Agus Rahman. Dalam keputusasaan mencari figur pelindung, Cimot memanfaatkan perkembangan teknologi untuk menghidupkan kembali memori ibunya ke dalam sebuah program kecerdasan buatan (AI).
Dian Sastrowardoyo mengemban peran ganda dalam proyek ini, yakni sebagai produser sekaligus pemeran sosok Ibu. Bagi Dian, karakter ini sangat spesial karena menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar.

“Ini adalah peran yang mewakili banyak sekali ibu-ibu kita semua, yang ada di kehidupan masing-masing. Ibu selalu memberikan perasaan untuk dimengerti, aman, dan Ibu tidak bisa digantikan oleh Bapak atau bahkan oleh AI sekalipun. Saya merasa sangat terhormat bisa memerankan Ibu di film ini,” ujar Dian Sastrowardoyo.
Disutradarai oleh sineas Malaysia, Ho Wi-ding, naskah film ini digarap apik oleh Gina S. Noer, Diva Apresya, dan Melarissa Sjarief. Esok Tanpa Ibu bukan sekadar drama keluarga, melainkan sebuah refleksi tentang bagaimana teknologi tanpa kebijaksanaan justru bisa menjauhkan anggota keluarga dari realita. Sang Bapak akhirnya harus bertindak tegas demi menyelamatkan putranya agar tidak terjerumus lebih dalam ke dunia fana buatan AI.
Shanty Harmayn selaku produser menjelaskan bahwa ide cerita ini telah dipupuk sejak awal pandemi. Diskusi panjang dilakukan untuk melihat bagaimana teknologi mulai memengaruhi cara manusia berhubungan satu sama lain dalam lingkup terkecil, yaitu keluarga.
“Film ini dimulai dari ide Gina dan Diva, dan berasal dari sesuatu yang sangat personal bagi mereka. Sejak awal pandemi, kami berdiskusi panjang tentang bagaimana cerita ini bisa berbicara lebih luas. Dari banyak percakapan kami memulai dari isu keluarga, hingga bagaimana teknologi bisa memengaruhi hubungan manusia. Proses yang dilalui cukup panjang dan terus berevolusi hingga menjadi karya yang bisa dinikmati oleh penonton Indonesia mulai 22 Januari 2026 di bioskop. Semoga ceritanya sampai ke hati penonton,” kata Shanty.
Kehadiran film ini di sesi pemutaran di Kota Malang memicu berbagai reaksi dari penonton. Sebagian besar merasa ide yang diusung sangat relevan dengan zaman sekarang di mana AI sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Meski beberapa penonton juga merasa dinamika emosional sebelum konflik memuncak kurang tereksplorasi secara mendalam, namun orisinalitas ide dalam film ini tetap mendapat apresiasi tinggi. Esok Tanpa Ibu tetap menjadi pilihan tontonan yang segar bagi pecinta drama keluarga yang ingin melihat sudut pandang baru tentang kehilangan dan cara manusia modern menghadapinya.
Film ini diproduksi melalui kerja sama BASE Entertainment, Beacon Film, dan Refinery Media, serta mendapat dukungan penuh dari Singapore Film Commission (SFC) dan Infocomm Media Development Authority (IMDA). Sebuah bukti bahwa isu keluarga adalah bahasa universal yang melampaui batas negara. (A.Y)
