Kota Malang | ADADIMALANG.COM —  Universitas Brawijaya (UB) meluncurkan Sistem Informasi Manajemen Risiko (SEMAR), sebuah platform yang menempatkan pengawasan risiko sebagai bagian dari proses kerja sejak program belum dijalankan. Sistem ini menjadi sinyal bahwa persoalan tata kelola kampus kini tidak lagi disikapi setelah muncul, tetapi dibaca sejak tahap perencanaan.

Di tengah besarnya skala organisasi perguruan tinggi, ancaman yang dihadapi bukan hanya soal akademik. Risiko bisa muncul dari sumber daya manusia, reputasi lembaga, pengadaan barang dan jasa, hingga gagalnya target kinerja unit kerja.

Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D., Med.Sc., mengatakan seluruh unit di UB akan diarahkan untuk menerapkan manajemen risiko dan melaporkannya melalui sistem digital yang bisa dipantau pimpinan universitas.

“Kita ingin bahwa seluruh unit yang ada di Universitas Brawijaya sudah mengimplementasikan manajemen risiko dan terpantau di dashboard SMART tersebut,” ujar Prof. Widodo.

Menurutnya, selama ini banyak organisasi fokus pada pelaksanaan tugas, namun belum cukup memberi perhatian pada kemungkinan hambatan yang bisa muncul di tengah jalan. Karena itu, setiap pimpinan unit diminta memahami titik rawan di area kerjanya masing-masing.

“Setiap unit, setiap orang, setiap bagian dari organisasi di Universitas Brawijaya, di samping dia memahami tugas pokok dan fungsinya, yang bersangkutan atau unit atau pimpinan di masing-masing unit harus memahami risiko yang mungkin terjadi,” katanya.

Ia menilai kebutuhan tersebut semakin mendesak karena organisasi sebesar UB memiliki persoalan yang makin beragam dan kompleks.

“Semakin besar, semakin kompleks organisasi, maka manajemen risiko menjadi salah satu tulang punggung manajemen yang ada di suatu organisasi,” tegasnya.

Prof. Widodo juga menekankan bahwa risiko melekat pada seluruh aktivitas kampus, termasuk sektor pendidikan. Karena itu, mitigasi harus menjadi kebiasaan baru dalam pengambilan keputusan.

“Semua aktivitas kita memiliki risiko dan itu harus dimitigasi,” ujarnya.

Sementara itu usai launching Semar, Ketua Satuan Reformasi Birokrasi UB Dr. Ngesti Dwi Prasetyo, SH., M.Hum., menjelaskan bahwa aplikasi SEMAR dirancang untuk membaca ketidakpastian yang dapat menghambat pencapaian visi universitas, rencana strategis, indikator kinerja utama, dan perjanjian kinerja setiap unit.

“Manajemen risiko itu adalah sebenarnya mengukur dampak risiko yang akan terjadi untuk mencapai tujuan kita. Jadi, ketidakpastian untuk mencapai tujuan UB,” kata Ngesti.

Melalui sistem tersebut, setiap unit harus mengidentifikasi risiko, mengukur tingkat kemungkinan, serta mengelompokkan kategori ancamannya. Hasil itu kemudian ditampilkan dalam dashboard pimpinan Universitas Brawijaya.

“Dengan adanya dashboard SMART ini, Pak Rektor itu bisa melihat mana kemudian kira-kira risiko yang sering terjadi, hampir terjadi, atau tidak sama sekali terjadi,” jelasnya.

Ia menyebut dashboard itu berfungsi sebagai peringatan dini. Risiko yang masuk kategori serius akan terlihat melalui indikator tertentu sehingga kebijakan bisa diambil lebih cepat.

“Yang warna-warna merah ini artinya problem, early warning system kita,” ujarnya.

Menurut Ngesti, ancaman yang terbaca dari sistem dapat berupa reputasi universitas atau persoalan pengadaan barang dan jasa. Dari data tersebut, pimpinan dapat menentukan apakah risiko harus dihindari, ditekan, atau dikelola sebagai tantangan baru.

Dengan SEMAR, UB mulai membawa logika korporasi modern ke lingkungan kampus. Program tidak lagi cukup dinilai dari target yang disusun, tetapi juga dari seberapa siap organisasi membaca risiko sebelum masalah benar-benar terjadi. (A.Y)