Kota Malang | ADADIMALANG.COM — Menjelang perayaan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya (FKH UB) mengambil langkah proaktif untuk menjamin kelayakan dan kesehatan hewan kurban. Pada tahun ini, FKH UB menerjunkan tim besar berkekuatan 960 mahasiswa dan 41 dosen pendamping untuk melakukan pengawasan ketat di berbagai daerah.
Ditemui sebelum pelepasan petugas pemeriksa hewan kurban pagi tadi, Ketua Pengabdian Masyarakat Pemeriksaan Hewan Kurban FKH UB 2026, drh. Yulinar Risky Karaman, M.Biomed., memaparkan bahwa persebaran personel difokuskan di wilayah Malang Raya serta beberapa titik strategis di Jawa Timur. Di Kota Malang, sebanyak 400 mahasiswa dan 15 dosen diterjunkan ke lapangan. Sementara untuk Kabupaten Malang diperkuat oleh 100 mahasiswa dan 5 dosen, serta Kota Batu yang diperkuat 300 mahasiswa dengan pendampingan 5 dosen.
Selain Malang Raya, FKH UB juga mengirimkan delegasi ke beberapa wilayah lain di Jawa Timur, meliputi Kabupaten Sidoarjo (6 mahasiswa dan 1 dosen), Kabupaten Lamongan (5 mahasiswa dan 1 dosen), serta Kota Mojokerto (35 mahasiswa dan 1 dosen). Distribusi personel bahkan menjangkau wilayah Jawa Tengah, Jawa Barat, hingga Bali, yang melibatkan sekitar 40 hingga 70 mahasiswa Program Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH) yang sedang menjalani pendidikan di luar kampus.
“Kami juga melayani berbagai permintaan khusus yang mayoritas berasal dari takmir masjid di Kota Malang dan Kabupaten Malang yang menginginkan pendampingan intensif. Untuk masjid-masjid di sekitar lingkungan kampus sendiri, kami menyiagakan 5 hingga 6 mahasiswa di setiap titiknya,” jelas drh. Yulinar Risky Karaman.
Mengenai teknis di lapangan, drh. Yulinar menjelaskan bahwa para petugas mengemban mandat untuk melakukan dua lapis pemeriksaan krusial, yaitu antemortem (sebelum penyembelihan) dan post-mortem (setelah penyembelihan).
Pemeriksaan antemortem dilakukan secara berkala di lapak-lapak penjualan hewan kurban yang tersebar di lima kecamatan di Kota Malang sejak beberapa hari lalu, serta di area masjid sesaat setelah hewan kurban tiba. Fase ini bertujuan memastikan hewan dalam kondisi sehat, cukup umur, tidak cacat fisik, dan memenuhi syariat Islam sebagai hewan kurban.
Setelah proses penyembelihan selesai, tim gabungan FKH UB langsung bergerak melakukan pemeriksaan post-mortem dengan memeriksa kondisi organ dalam satwa kurban secara detail untuk mendeteksi adanya abnormalitas. Pemeriksaan klinis post-mortem difokuskan pada pemetaan potensi penyakit yang kerap menginfeksi hewan ternak dalam beberapa tahun terakhir.
“Fokus utama kami dalam pemeriksaan post-mortem adalah memastikan apakah bagian daging dan jeroan tersebut layak dikonsumsi atau harus dieliminasi. Temuan klinis yang paling sering kami jumpai dari tahun ke tahun adalah investasi cacing hati (Fasciola hepatica), terutama pada sapi. Selain itu, tim di lapangan juga memperketat skrining terhadap gejala penyakit menular akut seperti Lumpy Skin Disease (LSD) serta Penyakit Mulut dan Kuku (PMK),” pungkas drh. Yulinar.
Melalui program pengabdian masyarakat ini, FKH UB berharap dapat memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam mengonsumsi daging kurban, sekaligus menjadi sarana aplikasi ilmu kedokteran hewan secara riil bagi para mahasiswa di tengah masyarakat. (A.Y)
