Adadimalang.com

The Art of News

banner 728x90

Mahasiswa UB Buat Inovasi Daur Ulang sampah organik

Mahasiswa UB Buat Inovasi Daur Ulang sampah organik

Memanfaatkan Maggot Black Soldier Fly (BSF) sebagai pendaur ulang alami sampah.

ADADIMALANG – Bertujuan dapat mengurangi jumlah sampah organik yang ada di SMPN 22 Kota Malang, 6 orang mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) menciptakan inovasi daur ulang sampah organik dengan lebih cepat.

Tim mahasiswa yang diketuai Annis Safira Nur Aulia dan beranggotakan Femi Tasani, Muhammad Zainurrahman, I Wayan Wira Yuda, Mila Afidah Rahmah dan Abdul Mudjib Sulaiman Wahid ini berinovasi dengan menggunakan larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai pendaur ulang alami sampah organik.

Black Soldier Fly (BSF) teraebut dinilai memiliki kemampuan beradaptasi yang tinggi bahkan dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

“Larva ini memiliki dua fase major, yaitu fase lalat dan fase maggot. Fase maggot inilah yang berperan sebagai pendaur ulang sampah,” ungkap Annis Safira Nur Aulia.

Bersama dengan anggota ekstrakurikuler Tanaman Organik SMPN 22 Malang, maggot Black Soldier Fly dikembangkan sebagai pengurai sampah organik sekaligus media pembelajaran siswa. Meski demikian muncul persoalan berupa banyak imago lalat yang mati dan pupa yang tidak berkembang.

“Kami membuat sistem yang dapat memperkecil kemungkinan mortalitas maggot. Pengaturan suhu, kelembapan dan cahaya menjadi salah satu bagian yang perlu diperhatikan selain pengecekkan jenis dan jumlah pakan maggot,” kata Annis Safira.

Tim mahasiswa Universitas Brawijaya ini melakukan sosialisasi tentang bagaimana cara budidaya maggot yang baik agar menghasilkan pupuk kompos yang maksimal secara daring yang diikuti oleh 8 orang peserta termasuj pembina ekskul Tanaman Organik SMPN 22 kota Malang hari Senin (14/09/2020) lalu.

“Kami senang, teman-teman SMPN 22 Malang sangat antusias dalam kegiatan sosialisasi. Mereka aktif bertanya tentang seluk beluk maggot,” kata salah satu perwakilan tim Annis.

Demi mensukseskan budidaya maggot tersebut, tim juga membuat buku pedoman budidaya maggot dan aplikasi BLAЄK PINTER dimana dengan aplikasi teraebut maka jumlah kematian maggot dapat ditekan.

“Aplikasi ini memuat update suhu dan kelembapan di sekitar kandang maggot. Ada juga, perhitungan jumlah pakan dan maggot, kalender fase, video tutorial dan buku pedoman,” kata mahasiswa angkatan 2017 tersebut.

Annis juga menambahkan jika program ini akan terus berlanjut dan berkembang untuk mencapai target maggot yang melimpah dan menghasilkan kompos yang berkualitas.

Tidak hanya sebagai dekomposer, maggot bisa dijadikan sebagai alternatif pakan ternak burung dan ikan karena maggot mengandung 35 % protein dan 30% lemak kasar yang baik untuk pertumbuhan ternak. (A.Y)

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan