ADADIMALANG – Koperasi itu harus menjadi soko guru perekonomian Indonesia. Namun, di mata dunia, koperasi sudah menjadi soko guru bagi roda ekonomi perekonomian dunia. Itulah yang disampaikan oleh Dr. M. Fathorrazi, M. Si., ketua Adopkop (Asosiasi Dosen Peneliti Koperasi) hari ini (29/10) dalam acara Seminar Nasional Koperasi.
“Koperasi lah yg menggerakkan perekonomian dunia. Di Amerika dari 9/10 sudah berkoperasi. Tidak hanya itu, Jepang, dan Kanada juga sudah. Nah, koperasi itulah dikawal oleh gerakan koperasi dan ekonomi dunia,”
Fathorrazi pun menjelaskan tantangan koperasi di era milenial. “Koperasi bagaikan kue donat. Ada pemanis yg ditaruh di atas. Kalau tepat, akan dimakan, kalau tidak tepat ya jatuh. Seperti koperasi yang harus sesuai jati diri. Memgikuti standar, apa contohnya?Ya koperasi harus 20 orang,” paparnya.

Fathorrazi juga mengungkapkan di masa mendatang yang serba digitalisasi, koperasi akan berkolaborasi dengan startup yang ada di Indonesia
“Kalau ada kebersamaan, di era milenial koperasi akan jadi idola. Kebersamaan inilah yang kurang, membuat koperasi keguguran,” ujarnya. Fathorrazi mencontohkan koperasi peternakan syairah di Situbondo. “Di situ ada masyarakat, wali santi, santri, sama – sama naruh sapinya disitu. Pakannya disupply. Bisa titip di koperasi di situ,” ujarnya.
“Digitalisasi muaranya pada efisiensi. Efisiensi itu adalah kebersamaan,” tegasnya kembali.
Adopkop berharap ke depan mampu menghasilkan ekonomi soko guru di era milenial ini. Maka dari itulah Adopkop mengundang Nur Laili Fitriani, Penggiat Ekonomi dan Startup dalam Seminar Nasional Koperasi yang hari ini digelar di Graha Cakrawala. Menurut Dekan Fakultas Ekonomi (FE) UM, Cipto Wardoyo, mengungkapkan acara ini juga sebagai wujud mendukungnya FE terhadap kemajuan Koperasi.
“Kebetulan FE UM menjadi tuan rumah kegiatan Adopkop kali ini,” ujar Dekan FEB UM, Cipto Wardoyo.
Acara ini juga dihadiri oleh mahasiswa FE angkatan 2018 untuk membahas perihal perkembangan koperasi ke depan. Namun, Cipto yakin, bahwa Koperasi mampu berkolaborasi di startup di era digital ini, dan kembali bangkit.
Di Indonesia sendiri Adopkop berusaha untuk menanamkan koperasi sebagai soko guru perekonomian Indonesia. Adopkop sedang berkolaborasi bersama Dekopin untuk mewujudkan impiannya. Ada beberapa sumbangan yang sudah dikumpulkan dari Adopkop. Adopkop bakal lepas dua bidikan utama. Yang pertama dengan perkembangan keilmuan koperasi, yang kedua memberikan contoh kopeprasi – koperasi yg baik.
Adopkop sendiri mulai tahun 1997 hingga sekarang masih menerbitkan beberapa buku. Buku ini adalah buku ilmiah dan penelitian yang dihasilkan oleh penggiat koperasi.
“Permasalahannya kenapa disebut sebagai soko guru? Padahal kenyataannya belum? Ternyata kita masih tidur. Nah, agar impian terealisir maka FE UM siap mengirimkan tenaga untuk Adopkop,” tutup Cipto berharap. (A.Y)

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.